Nama saya Jonathan (tentunya bukan nama asli saya) dan saya saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan komputer di Singapore. Kebetulan, saat ini saya sedang diberi cuti oleh perusahaan tempat saya bekerja sehingga kesempatan ini saya gunakan untuk pulang ke Indonesia.
Sehari di Jakarta setelah bertahun-tahun di Singapore membuat saya pangling apalagi jalan ke arah rumah saya, sehingga saya mempercayakan jalan ke rumah saya kepada supir taksi dan saya tahu kalau saya sedang dipermainkan olehnya karena setelah saya tiba di alamat rumah saya, saya mesti membayar sejumlah uang yang cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia.
Setibanya di rumah, saya bertemu kedua orang tua saya dan kakak perempuan saya. Setelah kami bercakap-cakap mengenai pengalaman kerja saya di Singapore, mereka langsung mengajak saya untuk berjalan-jalan ke Plaza Senayan. Kami akhirnya pergi bersama-sama setelah saya selesai bersiap-siap dan menyisir rambut.
Keindahan Plaza Senayan membuat saya takjub apalagi saya baru 2 kali mengunjungi pusat perbelanjaan tersebut. Di depan salah satu toko busana, kedua orang tua saya menyuruh kami untuk jalan sendiri-sendiri karena memang itu merupakan kebiasaan keluarga kami jika sedang pergi ke mall, berhubung saya dan kakak perempuan saya memiliki sifat shopping yang berbeda. Saya lebih menyukai benda-benda yang berhubungan dengan komputer sementara kakak perempuan saya lebih menyukai parfum dan busana perempuan. Kami berjanji akan bertemu di depan toko busana yang sudah ditentukan 2 jam kemudian.
Saya akhirnya berjalan-jalan mengitari boulevard pertokoan Plaza Senayan, saya melihat harga barang-barang yang cukup murah jika dibandingkan dengan harga barang-barang di Singapore sehingga kadang-kadang ada keinginan untuk membelinya, hingga suatu saat saya dikejutkan oleh sebuah teriakan dari seorang gadis, "Tolongg.. copett.." Mendengar teriakan gadis itu, saya secara refleks mengejar seorang pria berkulit gelap yang dimaksud oleh gadis tersebut sehingga akhirnya saya berhasil menangkap pria tersebut dan sebelumnya memberikannya beberapa tonjokan dan tendangan sehingga dia sempat KO untuk beberapa saat. Saya mengambil tas dari pria tersebut dan mendekati gadis muda yang sedang mengalami shock sementara setelah tasnya dicopet.
Saya mengembalikan tas itu kepada yang punya dan sebagai terima kasihnya, gadis muda itu memperkenalkan dirinya. "Nama saya Nike D**** (edited) dan saya berterima kasih kepada Mas yang telah membantu saya mendapatkan kembali tas saya", jawabnya dengan wajah sendu. Kemudian Nike mengajak saya pergi ke suatu cafe dan dia berkata bahwa dia akan membelikan saya minum apa saja sebagai tanda terima kasih. Saya berpikir apa salahnya menerima hadiah cuma-cuma ini sehingga saya mengiyakan saja dan pergi bersamanya ke suatu cafe yang tidak jauh dari tempat kita berdiri.
Kami memilih suatu lokasi yang cukup jauh dan tersembunyi, dan ternyata saya baru sadar bahwa dia telah memilih suatu tempat yang sangat mahal karena ini adalah VIP Place. Saya berpikir bahwa gadis muda ini adalah seorang gadis yang sangat kaya. Akhirnya saya tetap duduk dan tidak mempedulikan Nike yang sedang bercakap-cakap serius dengan seorang waiter dan waitress yang menunggu di meja depan. Setelah beberapa lama mereka bercakap-cakap, Nike menuju ke arah meja dimana saya berada sambil melemparkan senyum dan saya hanya memberikan senyum balik kepadanya.
Ketika dia duduk di sebelah saya, saya sungguh kaget setengah mati karena dia langsung memeluk dan mencium wajah saya sehingga saya langsung membalasnya dengan penuh rasa senang karena ini merupakan kesempatan dalam kesempitan. Kami hanyut dalam French Kiss untuk beberapa saat dan saya sungguh terkejut karena disaat kami sedang melakukan french kiss, Nike langsung memasukkan tangannya ke dalam celana panjang saya sehingga batang kejantanan saya yang tadinya sedang tertidur tiba-tiba langsung bangun menjawab respon dari tangannya yang putih mulus tersebut.
Permainan tangannya mengocok batang kemaluanku membuat kenikmatan tersendiri dalam batinku dan tanpa kusadari, tanganku langsung menggerayangi payudaranya yang masih tersembunyi di balik baju T-Shirt-nya. Saya ingin sekali melanjutkan perbuatan ini lebih jauh tetapi saya takut jika tiba-tiba ada tamu masuk ke dalam cafe ini dan melihat apa yang sedang kami lakukan dan nampaknya Nike membaca apa yang sedang saya pikirkan dan dia berkata, "Jika Mas takut orang lain melihat, jangan khawatir karena percaya atau tidak saya sudah membayar ruangan VIP ini seutuhnya sehingga tidak akan ada orang yang berani lancang masuk ke dalam ruangan ini, karena sebenarnya saya adalah anak dari salah satu pejabat negara dan saya tidak akan memberitahukan siapa ayah saya.." Aku masih bingung dengan kalimat kalimatnya tetapi kebingunganku dijawab dengan cepat oleh ciuman mesra di bibirku dan tangannya mulai membuka celanaku sehingga sekarang aku sudah tidak memakai celana lagi.
Nike membiarkan aku di meja sofa merah itu dan dia langsung membuka celana panjangnya serta celana dalam berwarna merah muda sehingga saya sekarang dapat melihat sebuah pemandangan yang sangat erotis karena saya sedang melihat seorang gadis muda yang masih memakai baju tetapi di bagian perut ke bawah tidak memakai apa-apa lagi. Nike mendekatiku sambil tersenyum penuh nafsu dan langsung memeluk serta menciumku yang masih bingung apa yang sedang dialami oleh diriku. Dia kemudian meraih batang kemaluanku yang masih tegang dan mengocoknya dengan penuh perasaan sehingga saya mendesah terangsang menghadapi sensasi yang nikmat dari kocokannya.
Tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya dan kemudian langsung naik ke atas tubuh saya dan dengan penuh kemesraan, dia mulai mengarahkan batang kemaluan saya yang masih tegang ke dalam liang kenikmatannya. Disaat batang kemaluan saya memasuki liang senggamanya, saya merasakan suatu perasaan nikmat. Saya terus menaik-turunkan selangkangan saya dan dibalas oleh Nike dengan ritme yang berlawanan dengan apa yang saya lakukan. "Ohh, arghh.. Jonathan ini hadiah untukmu karena telah menyelamatkan tas saya dari tangan pencopet.. hmm.. kontolmu oke juga ya", dan kata-kata seperti itulah yang saya dengar darinya sambil terus meliuk-liukkan badannya laksana cacing yang sedang kepanasan sehingga perasaan nikmat itu makin memenuhi batinku sehingga aku makin bersemangat menjawab goyangan-goyangan nikmatnya.
Tak lama kemudian, dia mencabut batang kemaluan saya dari liang senggamanya dan menyuruh saya bangun. Saya menuruti perintahnya dan ketika saya sudah bangun dari sofa merah itu, dia langsung gantian tiduran di sofa merah tersebut. Saya mengerti apa yang dia maksudkan dan tanpa basa-basi, saya langsung menyerang tubuhnya dan langsung menancapkan batang kemaluan saya yang masih tegang. Maklumlah, saya sangat terangsang oleh perbuatannya sehingga saya mesti menyelesaikan seluruh permainan ini. Ketika saya hendak memasukkan batang kemaluan saya ke dalam liang senggamanya, saya melihat ada darah keluar dari liang kewanitaannya dan saya percaya bahwa dia masih perawan. Perasaan gembira mendapatkan perawan Plaza Senayan dan rasa horny yang sudah sampai di ubun-ubun, membuat saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang sorganya dan kemudian saya menggoyang-goyangkan selangkangan saya sehingga batang kemaluan saya sepertinya sedang mengebor liang kewanitaan Nike dan membuat batin saya semakin berdebar-debar dan membuat saya semakin bernafsu.
Desahan kami dan cucuran keringat kami mulai meramaikan suasana ruangan VIP itu dan suara desahan erotis kami hanya diganggu oleh background musik jazz dari cafe tersebut. Tak berapa lama kemudian, saya merasakan bahwa saya akan menyelesaikan permainan ini karena saya ingin mengeluarkan sperma saya ke dalam liang senggamanya tetapi berhubung takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya, saya meminta persetujuan darinya tetapi jawabannya sungguh tidak saya duga, "Keluarkan saja di dalam Mas, saya ingin sekali mendapatkan anak dari Mas dan saya tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Mas kok.. anyway, saya juga ingin klimakss.." Selesai mengucapkan kata-kata terakhir, Nike memeluk saya dan menciumi saya dengan penuh nafsu dan tak lama kemudian, saya langsung bergetar hebat dan saya merasakan bahwa batang kemaluan saya sedang memuntahkan lahar hangat ke dalam liang senggamanya dan disaat yang bersamaan itu, dia berkata, "Mas, enak banget.. anget seperti permainan mas, Mass.. aku udah klimaks.." dan aku percaya bahwa dia menyukai lahar panas yang keluar dari batang kemaluanku itu.
Setelah permainan itu selesai, dia langsung menyuruh saya bangkit dari pelukannya dan dia menyuruhku untuk berkemas-kemas. Setelah kami berpakaian kembali, dia mendekatiku dan mencium bibirku. "Ini hadiah untuk Mas dan ini adalah saat pertama dan terakhir saya mengenal Mas, sehingga saya tidak akan memberikan Mas nomor telpon saya.. Mas, tolong tunggu sebentar di sini."
Setelah itu, Nike meninggalkan saya dan mendekati pelayan yang tersenyum kepadanya dan kemudian memandang saya sambil tersenyum penuh arti. Saya melihat Nike memberikan setumpuk uang kepada pelayan itu dan saya yakin bahwa itu pasti jutaan dan bahkan tampak sekilas, Nike memberikan satu paket uang dollar kepada pelayan Cafe tersebut dan setelah itu, dia mencium pipi pelayan tersebut. Saya menjadi semakin bingung dengan sifat gadis muda yang baru saja saya perawani itu.
Setelah itu, Nike menuju ke arahku lagi dan menyuruhku untuk meninggalkan cafe tersebut dan melupakan apa yang telah terjadi. Saya menuruti perintahnya, kemudian saya langsung pergi menuju toko busana untuk bertemu keluargaku dan ternyata mereka sudah menungguku sejak tadi. Setelah kulihat jam tanganku, baru kusadari bahwa aku telah terlambat 30 menit dari waktu perjanjian dan setelah saya mengucapkan, "I'm sorry..", kemudian kami berempat langsung pergi meninggalkan Plaza Senayan untuk pulang ke rumah. Di dalam perjalanan ke rumah, saya masih tidak percaya apa yang telah saya alami hari ini di Plaza Senayan. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya bisa mendapatkan Perawan Plaza Senayan hanya karena menangkap pencopet.
TAMAT
Sunday, January 2, 2011
Perawatku yang seksi
Suatu hari aku mengalami kecelakaan waktu pertama aku mengendarai sepeda motor, saat itu aku masih berumur 16 tahun. Sebenarnya kecelakaan itu tidak terlau berat, kakiku mengalami sedikit retak, tapi karena aku sempat tidak sadar beberapa jam sampai aku tidak menyadari tiba-tiba aku berada di rumah sakit.
Pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda. Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi selimutku. Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi.
"Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi", ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di bukanya.
Setelah perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh terhadapnya.
Paginya aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai perawat.
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan kirinya. Dan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, "Hmm.. Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?", suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya.
Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan menggantung.
Perawat itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi.
"Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini." Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus itu.
Perawat tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku, dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu.
"Ayo dong, mainin juga punyaku", tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat.
"Eest.. nikmatnya mmh.. uuh..!" Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. "Aaah.. huuh..!" Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, "Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huu.. esst.." Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan membengkak.
Kemudian sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya, dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan jari-jariku.
Desahan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan.
"Hhhm.. boleh juga kejantananmu", terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku.
TAMAT
Pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda. Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi selimutku. Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi.
"Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi", ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di bukanya.
Setelah perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh terhadapnya.
Paginya aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai perawat.
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan kirinya. Dan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, "Hmm.. Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?", suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya.
Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan menggantung.
Perawat itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi.
"Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini." Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus itu.
Perawat tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku, dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu.
"Ayo dong, mainin juga punyaku", tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat.
"Eest.. nikmatnya mmh.. uuh..!" Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. "Aaah.. huuh..!" Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, "Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huu.. esst.." Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan membengkak.
Kemudian sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya, dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan jari-jariku.
Desahan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan.
"Hhhm.. boleh juga kejantananmu", terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku.
TAMAT
Penjual DVD cantik
Untuk pembaca yang belum membaca ceritaku terdahulu, perkenalkan namaku Wawan. Umurku 23 tahun, dan aku adalah mahasiswa tingkat akhir sebuah PTS di Jakarta. Saat ini aku tinggal menyelesaikan skripsi, tetapi sampai sekarang masih belum selesai-selesai juga. Mungkin karena aku saat ini terlalu fokus pada bisnis wiraswastaku. Hasilnya sangat lumayan sih, jadi membuatku agak mengabaikan skripsiku itu. Tetapi aku berniat untuk mulai mengerjakannya lagi di tengah-tengah kesibukan mengerjakan proyek-proyek bisnisku. Bangga juga bila mempunyai gelar nanti, dan terlebih hal itu bisa membuat orang tuaku senang.
Semenjak aku kenal dengan Tante Sonya, seperti kuceritakan dulu di 'Beli Mobil Berbonus Seks', aku jadi ketagihan bermain seks. Aku selalu memikirkan hal itu, terutama bila setelah beberapa hari tidak ada penyaluran. Memang aku mempunyai pacar, tetapi dengan Monika pacarku itu, aku hanya bercumbu saja dan tidak sampai berhubungan lebih jauh. Dia memang ingin mempertahankan mahkotanya sampai menikah nanti.
Berhubung sekarang aku sudah mempunyai penghasilan, aku bisa menggunakannya sebagian sebagai 'biaya' kenakalanku. Kadang aku dan temanku pergi hunting ABG-ABG yang sering nongkrong di mall atau tempat nongkrong lainnya. Aku juga masih sering berhubungan dengan Tante Sonya, dan juga teman-temannya. Memang Tante Sonya ini memperkenalkanku dengan beberapa temannya yang kesepian. Mungkin lain kali aku akan menceritakan pengalamanku dengan mereka, tetapi saat ini aku ingin menceritakan kejadian lain beberapa hari yang lalu.
Malam itu aku sedang suntuk di tempat kosku. Aku perlu refreshing setelah mengerjakan salah satu proyek pesanan klienku. Kutelepon Monika untuk kuajak nonton, tetapi ternyata dia bilang bahwa dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sudah mendekati deadline.
Akhirnya kuputuskan saja untuk membeli DVD sekalian makanan untuk malam nanti. Di dekat tempat kosku, memang terdapat penjual DVD bajakan. Sudah sering aku beli DVD di tempat itu, malahan aku sudah kenal cukup dekat dengan penjualnya. Kadang saat aku beli DVD, uang kembaliannya aku beri untuk dia. Umurnya sekitar 25 tahunan dan berbodi seksi. Namanya Sinta, dan orangnya memang agak genit. Kalau dilihat sekilas, ada miripnya dengan Della Puspita. Tidak mirip sekali sih, tapi lumayan cantik. Hanya bodinya jauh lebih seksi jika dibandingkan aktris sinetron itu.
"Hai.. Mbak. Ada film baru nggak?" tanyaku setelah sampai di tempatnya berjualan.
"Ada Wan.. Nih pilih aja sendiri" katanya sambil menyodorkan setumpuk DVD. Kulihat DVD tersebut satu persatu. Ada beberapa yang menarik, seperti 'The Terminal'-nya Tom Hanks dan 'Collateral'-nya Tom Cruise.
"Mbak, dicoba dulu dong" kataku sambil menyerahkan kedua DVD itu padanya.
Mbak Sinta pun kemudian mencoba DVD itu di playernya. Kuperhatikan malam itu dia tampak seksi sekali, dengan T-shirt ketat yang menonjolkan keindahan payudaranya. Tubuhnya tampak padat berisi, dengan rok mini dari bahan jeans yang semakin menambah keseksiannya.
"Ya udah deh.. Saya ambil Mbak"
"Sedang sendirian nih Wan? Nggak pergi sama pacar?" tanyanya.
"Iya Mbak. Sedang suntuk nih, makanya saya beli DVD" sahutku.
"Mau yang lebih seru nggak?" tanyanya lagi sambil tersenyum genit.
"Boleh." jawabku.
Dia pun lalu mengambil bungkusan plastik hitam dari balik lacinya, dan menyerahkannya padaku. Kulihat isinya, ternyata DVD porno.
"Wah.. Kalau beli ini nontonnya nggak bisa sendirian nih" pancingku.
"Emang perlu Mbak temenin?" godanya.
"Siapa takut.. Bener nih?" tanyaku. Aku senang sekali mendengarnya. Aku merasakan penisku sudah mulai tegang membayangkan nikmatnya tubuh Mbak Sinta.
"Tapi nanti ya Wan.. Satu jam lagi aku off. Jemput aja aku nanti"
Akhirnya setelah janjian dan membayar DVD yang kuambil, 2 DVD biasa dan satu DVD porno, aku pun pergi dahulu untuk makan malam sambil menunggu Mbak Sinta pulang. Aku pergi ke restoran fast food yang berada tak jauh dari tempat penjualan DVD itu. Tak sabar aku menunggu satu jam lagi..
Singkat cerita, Mbak Sinta telah berada dalam mobilku. Aku pun memacu mobil kembali ke tempat kosku.
"Ih.. Kok ngebut sih Wan? Udah pengen ya?" godanya genit.
"Iya nih Mbak.. Wawan udah pengen diajarin Mbak" sahutku asal.
"Ah.. Pasti kau udah pinter kan.." jawabnya sambil menyilangkan kakinya. Paha mulusnya makin menambah gairahku.
"Kamu kalau main kuat berapa lama Wan? Jangan cepet lho.. Puasin Mbak dulu ya?" tanyanya lagi genit.
"Iya pasti Mbak puas deh.."
"Habis tunangan Mbak kalau main cepet banget.." katanya lagi. Pantas jadi genit begini, pikirku.
Sesampainya di tempat kosku, aku langsung masuk ke kamarku bersama Mbak Sinta. Memang di tempat kosku ini, kamarku agak terpencil hingga bebas saja membawa siapa pun masuk ke tempat kosku ini.
Kunyalakan AC dan TV-ku. Segera kupilih DVD porno yang berjudul 'Sporty Babes 2' dan kunyalakan DVD playerku. Aku pun kemudian beranjak menuju ranjang dimana Mbak Sinta telah menunggu. Kami kemudian menikmati tontonan seru itu. Di layar TV tampak seorang gadis bule cantik sedang disetubuhi di tempat permainan bowling. Desahan suara gadis itu begitu menggairahkan. Tampak lawan mainnya sangat menikmati keindahan tubuh gadis itu saat menyetubuhi sambil menghisapi payudaranya.
Nafas Mbak Sinta sudah memberat di sebelahku. Tangannya mulai meremasi tanganku. Kupalingkan wajahku menatapnya, dan Mbak Sinta langsung melumat bibirku. Diciuminya aku dengan penuh gairah. Lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulutku, yang kemudian kuhisap gemas. Tanganku pun mulai meremasi payudaranya yang kenyal dari balik T-shirtnya yang ketat.
"Sebentar.. Mbak buka dulu ya" katanya sambil melepaskan T-shirt putih yang dipakainya. Tampaklah payudaranya yang besar dibungkus BH berwarna krem. Puting payudaranya tampak menonjol di balik kain BH-nya itu.
"Ayo kamu yang buka BH-nya Wan" ujarnya menggoda.
Tanganku langsung membuka kaitan BH di punggungnya. Lalu kuturunkan tali penyangga dari pundaknya, dan terpampanglah payudara Mbak Sinta di depanku. Payudara yang ranum dan besar, dengan putingnya yang menonjol menantang. Kuusap-usap dan kupilin perlahan puting payudara Mbak Sinta yang manis ini, sambil kemudian kuciumi lagi bibirnya.
"Ayo Wan, tunggu apa lagi. Isap susu Mbak dong" pintanya. Sambil berkata demikian, tangan Mbak Sinta agak menekan kepalaku ke bawah menuju dadanya. Tanpa menunda waktu lagi kujilati seluruh permukaan payudaranya.
"Ohh.." lenguh Mbak Sinta ketika lidahku mengenai putingnya yang telah menonjol keras.
Erangannya semakin menjadi ketika kuhisap putingnya sambil sesekali kugigit perlahan. Sementara aku menghisapi payudaranya yang sebelah kiri, tanganku mempermainkan payudara yang sebelahnya. Tangan Mbak Sinta mengusap-usap rambutku sambil terus mengerang nikmat.
"Iya Wan.. Bener gitu.. Aduh.. Enak.. Oh.." erang Mbak Sinta sambil meliuk-liukkan badannya. Aku pun semakin bernafsu menghisapi dan menjilati payudaranya yang kenyal itu.
Kulirik layar TV, dan di layar terpampang adegan dimana seorang gadis bule berambut pirang sedang dijilati vaginanya di atas sebuah meja billiard. Erangan gadis tersebut dari suara TV bercampur dengan suara lenguhan Mbak Sinta yang sedang kulahap payudaranya.
"Ayo Wan.. Mbak ajari seperti itu" ujarnya sambil menarik rambutku dan menunjuk ke layar TV. Kemudian didorongnya pundakku menuju ke arah bawah.
"Cepet buka celana Mbak" katanya lagi.
Aku pun kemudian mengangkat rok jeans mininya dan tampaklah celana dalam warna krem berenda yang dipakainya. Kubuka celana dalam itu, dan tampaklah liang kewanitaannya dengan rambut yang tercukur rapi. Tangan Mbak Sinta mengelus-elus kemaluannya sendiri, sambil matanya menatapku genit.
"Ayo Wan. Mbak pengen ngerasain jilatanmu di sini" katanya lagi sambil tangannya masih sibuk mengusap-usap vaginanya.
Kudekatkan kepalaku ke liang kewanitaannya, dan kujulurkan lidahku. Perlahan kujilati vaginanya. Tubuh Mbak Sinta menggelinjang hebat kala itu, sambil mulutnya mengerang dan meracau nikmat.
"Ohh.. Wan.. Ya.. Jilati terus Wan.. Enak.. Ohh..".
Sambil melenguh, tangannya menekan kepalaku ke selangkangannya, dan akupun dengan penuh gairah menikmati liang vagina Mbak cantik ini. Erangannya semakin keras dan tubuhnya meliuk-liuk liar ketika aku menghisapi klitorisnya.
"Terus Wan.. Oh.. Oh.." sambil mengerang Mbak Sinta meremas-remasi payudaranya sendiri.
"Ayo Wan, kamu tidur di sini" katanya sambil bangkit dari ranjang.
"Mbak ajari posisi yang lebih enak"
Aku pun patuh dan tidur telentang di ranjang. Sementara kulihat sekilas di TV, si gadis bule cantik sedang disetubuhi secara doggy style di atas meja billiard. Erangan suara dari TV menambah erotis suasana di dalam kamarku. Mbak Sinta kemudian naik ke atas wajahku. Diturunkannya tubuhnya, sehingga liang kewanitaannya tepat berada di atas mulutku. Kujulurkan lidah, dan Mbak Sinta kemudian menggoyang-goyangkan pantatnya di atas wajahku. Erangan Mbak Sinta kembali bersaing dengan erangan dari DVD porno di TV.
"Oh.. Oh.." erang Mbak Sinta sambil pantatnya terus bergoyang-goyang mencari kepuasan.
Kujilat dan kuciumi dengan penuh gairah vagina Mbak manis ini. Tangan Mbak Sinta memegang pinggiran ranjang di atas kepalaku, sementara tubuhnya terus bergoyang mencari kepuasan birahi. Beberapa lama kemudian, goyangan pantat Mbak Sinta semakin menjadi.
"Oh.. Wan.. Mbak hampir sampai.. Ohh.." lenguhnya panjang. Tubuhnya menegang, dan saat itu banyak cairan nikmat keluar dari vaginanya. Kuhisap habis cairan kewanitaan itu, dan tak lama Mbak Sinta pun menjatuhkan tubuhnya di sebelahku.
"Kamu hebat Wan.. Dengan Mas Joko belum pernah aku orgasme seperti tadi" katanya sambil tangannya mengusap-usap dadaku.
"Mbak istirahat sebentar ya" katanya lagi.
Sebenarnya nafsuku sudah memuncak, tetapi aku tak mau memaksa Mbak seksi ini untuk melayaniku saat itu juga. Kami pun lalu kembali menonton DVD porno yang masih terpampang di layar TV. Di layar tampak sekarang seorang gadis bule berambut pirang sedang bermain tenis dengan seorang pria. Setelah bermain, mereka beristirahat dan mulai bercumbu. Si gadis bule tersebut lalu membuka celana si pria dan tampak terkejut melihat ukuran penisnya yang besar.
"Oh.. my god.. I love it.. So big" desah si gadis sebelum memasukkan penis itu ke dalam mulutnya.
Tampak gairah Mbak Sinta kembali bangkit melihat adegan itu.
"Punyamu besar begitu nggak Wan?" tanyanya sambil tangannya mulai meraba kemaluanku.
"Lumayan deh Mbak. Memang Mbak suka yang besar ya?"
"Iya. Semakin besar Mbak semakin suka" jawabnya genit.
"Ya udah Mbak lihat aja sendiri" kataku.
Mbak Sinta tersenyum dan mulai membuka celana panjangku.
"Ih.. Besar juga punyamu Wan. Sampai celananya nggak cukup tuh"
Memang karena nafsuku sudah memuncak, kepala penisku tampak mencuat keluar tak tertampung celana dalamku. Mbak Sinta tak sabar membuka celana dalamku. Tangannya kemudian mengocok perlahan senjata kelelakianku itu.
"Ih.. Keras banget.. Mbak suka kontol yang kayak gini. Besar dan keras. Pasti cewek kamu puas ya." katanya lirih.
Wajah Mbak Sinta kemudian mendekati selangkanganku. Hembusan nafasnya terasa hangat di kulit kemaluanku ketika dia mengamati penisku dengan pandangan gemas. Rasa nikmat yang luar biasa menjalar tubuhku ketika lidah Mbak Sinta yang cantik ini mulai menari di kepala penisku. Dijilatinya kepala penisku berikut batangnya. Setelah itu dengan rakus dikulumnya batang kemaluanku. Srrpp.. Srpp.. Bunyi itu yang terdengar ketika Mbak Sinta memaju-mundurkan kepalanya menghisapi penisku.
"Ahh.. Kontolmu enak Wan.. Mbak suka.. Hmm" desah Mbak Sinta ketika dia menghentikan kulumannya untuk menjilati batang kemaluanku.
Sesaat kemudian, penisku kembali menyesaki mulutnya yang haus kejantanan lelaki itu. Sementara mulutnya menikmati kejantananku, tangan Mbak Sinta mengelus-elus buah zakarku. Aku tak kuasa lagi untuk menahan erangan nikmatku. Tanganku pun meremas-remas rambut Mbak Sinta gemas.
Mbak Sinta semakin cepat menghisapi penisku. Kadang mulutnya dimiringkan, sehingga penisku membuat pipinya tampak menggelembung. Tangannya pun semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Kemudian dikeluarkannya penisku dari mulutnya, dan kembali dijilatinya seluruh permukaan penisku sambil tangannya mengurut-urut buah zakarku.
"Keluarin di mulut Mbak Wan.. Mbak pengen minum spermamu.." katanya dengan nada memerintah.
Aku tentu tak menolak perintahnya. Memang aku sudah tidak tahan lagi. Sambil mengerang nikmat, aku pun mengalami ejakulasi. Saat itu, Mbak Sinta malah kembali mengulumi kemaluanku, sehingga spermaku pun masuk ke dalam mulutnya. Mbak Sinta kemudian menjilati kemaluanku sampai bersih.
"Enak Wan..?" tanyanya sambil menjilati spermaku di sudut bibirnya.
"Enak Mbak.." jawabku lemas.
Kami pun lalu kembali beristirahat sambil menonton tayangan DVD. Kali ini dilayar tampak seorang gadis ABG bule berambut coklat sedang belajar memancing. Tak lama gadis itu sudah bercumbu dengan pelatihnya. Si gadis ABG menaiki tubuh lawan mainnya, dan mulai memompa tubuhnya naik turun. Sementara si aktor, seorang lelaki setengah baya, meremasi payudara gadis tersebut yang bergelantungan indah. Adegan persetubuhan lalu dilanjutkan dengan gaya doggy style. Tak lama kami pun kembali terangsang.
"Wan.. Mbak pengen seperti itu. Mbak pengen ngerasain ngentotin kontolmu. Pasti lebih enak daripada punyanya Mas Joko" katanya sambil meraba kemaluanku dan mulai menciumi bibirku.
Mbak Sinta melepaskan rok mininya yang masih tersisa, lalu menaiki tubuhku dan mengarahkan kemaluanku pada lubang kewanitaannya.
"Ohh.." desahnya saat penisku mulai menerobos liang vaginanya.
Dia pun mulai memompa kemaluanku naik turun. Terkadang dia pun mengoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Suara deritan ranjang, erangan Mbak Sinta, serta erangan suara dari DVD memenuhi kamar kosku. Walaupun AC kamar telah dinyalakan, tetap saja tubuh kami berkeringat. Tetesan peluh itu mengalir dari wajah Mbak Sinta membasahi payudaranya. Aku segera membuka T-shirt yang masih aku pakai. Sementara itu, Mbak Sinta terus bergoyang menikmati kejantananku. Tanganku tak ketinggalan meremasi payudaranya yang kenyal. Beberapa menit kami bersetubuh dengan gaya ini.
"Ayo Wan.. Sekarang Mbak pengen dientotin dari belakang" katanya sambil bangkit dari tubuhku. Dia kemudian menungging sambil tangannya memegang ujung ranjang. Aku pun segera memasukkan penisku kembali ke dalam vaginanya.
"Ohh.. Enak Wan.. Terus Wan.. Ohh.. Yang cepat.. Ohh" desah Mbak Sinta saat kupompa tubuhnya. Tanganku meremasi payudaranya yang bergoyang menggemaskan. Terkadang kuremas pula pantatnya yang bulat padat menantang.
"Ayo Wan.. Mbak hampir sampai.. Terus wan.. Oh.. Ohh.. Ohh.."
Tubuh Mbak Sinta kembali mengejang, lalu rebah lemas di atas ranjang. Kali ini aku tak mau lagi 'menggantung'. Kubalikkan badan Mbak Sinta dan kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya yang telah licin oleh cairan orgasmenya. Kugenjot tubuh Mbak yang seksi ini dengan gaya missionary.
"Eh.. Eh.." demikian erangan yang keluar dari mulutnya seirama dengan genjotan tubuhku.
"Hisapi putingku Mbak" kataku.
Mulut Mbak Sinta pun kemudian menghisapi puting dadaku sementara aku menggenjot tubuhnya. Tak lama aku pun tak tahan lagi menahan ejakulasiku yang kedua. Wajah cantik Mbak Sinta ditambah dengan erangannya, serta jepitan vaginanya di kelaminku membuatku mencapai puncak.
"Aku sampai Mbak.. Ahh" jeritku tertahan ketika aku menyemburkan spermaku dalam rahimnya.
Kami pun terbaring lemas di atas ranjang. Puas sekali rasanya menyetubuhi Mbak Sinta nan ayu ini. Kunyalakan sebatang rokok untuknya dan satu untukku. Kami kemudian mengobrol dan bercanda sambil tiduran di atas ranjang.
"Wan.. Anterin aku pulang ya" katanya setelah dia menghabiskan rokoknya.
"Lho.. Udah malam Mbak nanggung. Nginep di sini aja"
"Wah jangan Wan.. Besok pagi Mas Joko mau jemput aku berangkat kerja. Aku juga nggak bawa pakaian ganti" jawabnya.
Akhirnya, aku mengantar dia ke rumahnya. Cuma aku menurunkannya agak sedikit jauh dari rumahnya agar tetangganya tidak curiga. Enak juga nonton DVD bareng Mbak Sinta. Mungkin aku akan semakin sering beli DVD nantinya.
*****
Untuk pembaca yang ingin berkenalan atau mengetahui rahasia sukses bisnisku, silakan menghubungi emailku di bawah.
Tamat
Semenjak aku kenal dengan Tante Sonya, seperti kuceritakan dulu di 'Beli Mobil Berbonus Seks', aku jadi ketagihan bermain seks. Aku selalu memikirkan hal itu, terutama bila setelah beberapa hari tidak ada penyaluran. Memang aku mempunyai pacar, tetapi dengan Monika pacarku itu, aku hanya bercumbu saja dan tidak sampai berhubungan lebih jauh. Dia memang ingin mempertahankan mahkotanya sampai menikah nanti.
Berhubung sekarang aku sudah mempunyai penghasilan, aku bisa menggunakannya sebagian sebagai 'biaya' kenakalanku. Kadang aku dan temanku pergi hunting ABG-ABG yang sering nongkrong di mall atau tempat nongkrong lainnya. Aku juga masih sering berhubungan dengan Tante Sonya, dan juga teman-temannya. Memang Tante Sonya ini memperkenalkanku dengan beberapa temannya yang kesepian. Mungkin lain kali aku akan menceritakan pengalamanku dengan mereka, tetapi saat ini aku ingin menceritakan kejadian lain beberapa hari yang lalu.
Malam itu aku sedang suntuk di tempat kosku. Aku perlu refreshing setelah mengerjakan salah satu proyek pesanan klienku. Kutelepon Monika untuk kuajak nonton, tetapi ternyata dia bilang bahwa dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sudah mendekati deadline.
Akhirnya kuputuskan saja untuk membeli DVD sekalian makanan untuk malam nanti. Di dekat tempat kosku, memang terdapat penjual DVD bajakan. Sudah sering aku beli DVD di tempat itu, malahan aku sudah kenal cukup dekat dengan penjualnya. Kadang saat aku beli DVD, uang kembaliannya aku beri untuk dia. Umurnya sekitar 25 tahunan dan berbodi seksi. Namanya Sinta, dan orangnya memang agak genit. Kalau dilihat sekilas, ada miripnya dengan Della Puspita. Tidak mirip sekali sih, tapi lumayan cantik. Hanya bodinya jauh lebih seksi jika dibandingkan aktris sinetron itu.
"Hai.. Mbak. Ada film baru nggak?" tanyaku setelah sampai di tempatnya berjualan.
"Ada Wan.. Nih pilih aja sendiri" katanya sambil menyodorkan setumpuk DVD. Kulihat DVD tersebut satu persatu. Ada beberapa yang menarik, seperti 'The Terminal'-nya Tom Hanks dan 'Collateral'-nya Tom Cruise.
"Mbak, dicoba dulu dong" kataku sambil menyerahkan kedua DVD itu padanya.
Mbak Sinta pun kemudian mencoba DVD itu di playernya. Kuperhatikan malam itu dia tampak seksi sekali, dengan T-shirt ketat yang menonjolkan keindahan payudaranya. Tubuhnya tampak padat berisi, dengan rok mini dari bahan jeans yang semakin menambah keseksiannya.
"Ya udah deh.. Saya ambil Mbak"
"Sedang sendirian nih Wan? Nggak pergi sama pacar?" tanyanya.
"Iya Mbak. Sedang suntuk nih, makanya saya beli DVD" sahutku.
"Mau yang lebih seru nggak?" tanyanya lagi sambil tersenyum genit.
"Boleh." jawabku.
Dia pun lalu mengambil bungkusan plastik hitam dari balik lacinya, dan menyerahkannya padaku. Kulihat isinya, ternyata DVD porno.
"Wah.. Kalau beli ini nontonnya nggak bisa sendirian nih" pancingku.
"Emang perlu Mbak temenin?" godanya.
"Siapa takut.. Bener nih?" tanyaku. Aku senang sekali mendengarnya. Aku merasakan penisku sudah mulai tegang membayangkan nikmatnya tubuh Mbak Sinta.
"Tapi nanti ya Wan.. Satu jam lagi aku off. Jemput aja aku nanti"
Akhirnya setelah janjian dan membayar DVD yang kuambil, 2 DVD biasa dan satu DVD porno, aku pun pergi dahulu untuk makan malam sambil menunggu Mbak Sinta pulang. Aku pergi ke restoran fast food yang berada tak jauh dari tempat penjualan DVD itu. Tak sabar aku menunggu satu jam lagi..
Singkat cerita, Mbak Sinta telah berada dalam mobilku. Aku pun memacu mobil kembali ke tempat kosku.
"Ih.. Kok ngebut sih Wan? Udah pengen ya?" godanya genit.
"Iya nih Mbak.. Wawan udah pengen diajarin Mbak" sahutku asal.
"Ah.. Pasti kau udah pinter kan.." jawabnya sambil menyilangkan kakinya. Paha mulusnya makin menambah gairahku.
"Kamu kalau main kuat berapa lama Wan? Jangan cepet lho.. Puasin Mbak dulu ya?" tanyanya lagi genit.
"Iya pasti Mbak puas deh.."
"Habis tunangan Mbak kalau main cepet banget.." katanya lagi. Pantas jadi genit begini, pikirku.
Sesampainya di tempat kosku, aku langsung masuk ke kamarku bersama Mbak Sinta. Memang di tempat kosku ini, kamarku agak terpencil hingga bebas saja membawa siapa pun masuk ke tempat kosku ini.
Kunyalakan AC dan TV-ku. Segera kupilih DVD porno yang berjudul 'Sporty Babes 2' dan kunyalakan DVD playerku. Aku pun kemudian beranjak menuju ranjang dimana Mbak Sinta telah menunggu. Kami kemudian menikmati tontonan seru itu. Di layar TV tampak seorang gadis bule cantik sedang disetubuhi di tempat permainan bowling. Desahan suara gadis itu begitu menggairahkan. Tampak lawan mainnya sangat menikmati keindahan tubuh gadis itu saat menyetubuhi sambil menghisapi payudaranya.
Nafas Mbak Sinta sudah memberat di sebelahku. Tangannya mulai meremasi tanganku. Kupalingkan wajahku menatapnya, dan Mbak Sinta langsung melumat bibirku. Diciuminya aku dengan penuh gairah. Lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulutku, yang kemudian kuhisap gemas. Tanganku pun mulai meremasi payudaranya yang kenyal dari balik T-shirtnya yang ketat.
"Sebentar.. Mbak buka dulu ya" katanya sambil melepaskan T-shirt putih yang dipakainya. Tampaklah payudaranya yang besar dibungkus BH berwarna krem. Puting payudaranya tampak menonjol di balik kain BH-nya itu.
"Ayo kamu yang buka BH-nya Wan" ujarnya menggoda.
Tanganku langsung membuka kaitan BH di punggungnya. Lalu kuturunkan tali penyangga dari pundaknya, dan terpampanglah payudara Mbak Sinta di depanku. Payudara yang ranum dan besar, dengan putingnya yang menonjol menantang. Kuusap-usap dan kupilin perlahan puting payudara Mbak Sinta yang manis ini, sambil kemudian kuciumi lagi bibirnya.
"Ayo Wan, tunggu apa lagi. Isap susu Mbak dong" pintanya. Sambil berkata demikian, tangan Mbak Sinta agak menekan kepalaku ke bawah menuju dadanya. Tanpa menunda waktu lagi kujilati seluruh permukaan payudaranya.
"Ohh.." lenguh Mbak Sinta ketika lidahku mengenai putingnya yang telah menonjol keras.
Erangannya semakin menjadi ketika kuhisap putingnya sambil sesekali kugigit perlahan. Sementara aku menghisapi payudaranya yang sebelah kiri, tanganku mempermainkan payudara yang sebelahnya. Tangan Mbak Sinta mengusap-usap rambutku sambil terus mengerang nikmat.
"Iya Wan.. Bener gitu.. Aduh.. Enak.. Oh.." erang Mbak Sinta sambil meliuk-liukkan badannya. Aku pun semakin bernafsu menghisapi dan menjilati payudaranya yang kenyal itu.
Kulirik layar TV, dan di layar terpampang adegan dimana seorang gadis bule berambut pirang sedang dijilati vaginanya di atas sebuah meja billiard. Erangan gadis tersebut dari suara TV bercampur dengan suara lenguhan Mbak Sinta yang sedang kulahap payudaranya.
"Ayo Wan.. Mbak ajari seperti itu" ujarnya sambil menarik rambutku dan menunjuk ke layar TV. Kemudian didorongnya pundakku menuju ke arah bawah.
"Cepet buka celana Mbak" katanya lagi.
Aku pun kemudian mengangkat rok jeans mininya dan tampaklah celana dalam warna krem berenda yang dipakainya. Kubuka celana dalam itu, dan tampaklah liang kewanitaannya dengan rambut yang tercukur rapi. Tangan Mbak Sinta mengelus-elus kemaluannya sendiri, sambil matanya menatapku genit.
"Ayo Wan. Mbak pengen ngerasain jilatanmu di sini" katanya lagi sambil tangannya masih sibuk mengusap-usap vaginanya.
Kudekatkan kepalaku ke liang kewanitaannya, dan kujulurkan lidahku. Perlahan kujilati vaginanya. Tubuh Mbak Sinta menggelinjang hebat kala itu, sambil mulutnya mengerang dan meracau nikmat.
"Ohh.. Wan.. Ya.. Jilati terus Wan.. Enak.. Ohh..".
Sambil melenguh, tangannya menekan kepalaku ke selangkangannya, dan akupun dengan penuh gairah menikmati liang vagina Mbak cantik ini. Erangannya semakin keras dan tubuhnya meliuk-liuk liar ketika aku menghisapi klitorisnya.
"Terus Wan.. Oh.. Oh.." sambil mengerang Mbak Sinta meremas-remasi payudaranya sendiri.
"Ayo Wan, kamu tidur di sini" katanya sambil bangkit dari ranjang.
"Mbak ajari posisi yang lebih enak"
Aku pun patuh dan tidur telentang di ranjang. Sementara kulihat sekilas di TV, si gadis bule cantik sedang disetubuhi secara doggy style di atas meja billiard. Erangan suara dari TV menambah erotis suasana di dalam kamarku. Mbak Sinta kemudian naik ke atas wajahku. Diturunkannya tubuhnya, sehingga liang kewanitaannya tepat berada di atas mulutku. Kujulurkan lidah, dan Mbak Sinta kemudian menggoyang-goyangkan pantatnya di atas wajahku. Erangan Mbak Sinta kembali bersaing dengan erangan dari DVD porno di TV.
"Oh.. Oh.." erang Mbak Sinta sambil pantatnya terus bergoyang-goyang mencari kepuasan.
Kujilat dan kuciumi dengan penuh gairah vagina Mbak manis ini. Tangan Mbak Sinta memegang pinggiran ranjang di atas kepalaku, sementara tubuhnya terus bergoyang mencari kepuasan birahi. Beberapa lama kemudian, goyangan pantat Mbak Sinta semakin menjadi.
"Oh.. Wan.. Mbak hampir sampai.. Ohh.." lenguhnya panjang. Tubuhnya menegang, dan saat itu banyak cairan nikmat keluar dari vaginanya. Kuhisap habis cairan kewanitaan itu, dan tak lama Mbak Sinta pun menjatuhkan tubuhnya di sebelahku.
"Kamu hebat Wan.. Dengan Mas Joko belum pernah aku orgasme seperti tadi" katanya sambil tangannya mengusap-usap dadaku.
"Mbak istirahat sebentar ya" katanya lagi.
Sebenarnya nafsuku sudah memuncak, tetapi aku tak mau memaksa Mbak seksi ini untuk melayaniku saat itu juga. Kami pun lalu kembali menonton DVD porno yang masih terpampang di layar TV. Di layar tampak sekarang seorang gadis bule berambut pirang sedang bermain tenis dengan seorang pria. Setelah bermain, mereka beristirahat dan mulai bercumbu. Si gadis bule tersebut lalu membuka celana si pria dan tampak terkejut melihat ukuran penisnya yang besar.
"Oh.. my god.. I love it.. So big" desah si gadis sebelum memasukkan penis itu ke dalam mulutnya.
Tampak gairah Mbak Sinta kembali bangkit melihat adegan itu.
"Punyamu besar begitu nggak Wan?" tanyanya sambil tangannya mulai meraba kemaluanku.
"Lumayan deh Mbak. Memang Mbak suka yang besar ya?"
"Iya. Semakin besar Mbak semakin suka" jawabnya genit.
"Ya udah Mbak lihat aja sendiri" kataku.
Mbak Sinta tersenyum dan mulai membuka celana panjangku.
"Ih.. Besar juga punyamu Wan. Sampai celananya nggak cukup tuh"
Memang karena nafsuku sudah memuncak, kepala penisku tampak mencuat keluar tak tertampung celana dalamku. Mbak Sinta tak sabar membuka celana dalamku. Tangannya kemudian mengocok perlahan senjata kelelakianku itu.
"Ih.. Keras banget.. Mbak suka kontol yang kayak gini. Besar dan keras. Pasti cewek kamu puas ya." katanya lirih.
Wajah Mbak Sinta kemudian mendekati selangkanganku. Hembusan nafasnya terasa hangat di kulit kemaluanku ketika dia mengamati penisku dengan pandangan gemas. Rasa nikmat yang luar biasa menjalar tubuhku ketika lidah Mbak Sinta yang cantik ini mulai menari di kepala penisku. Dijilatinya kepala penisku berikut batangnya. Setelah itu dengan rakus dikulumnya batang kemaluanku. Srrpp.. Srpp.. Bunyi itu yang terdengar ketika Mbak Sinta memaju-mundurkan kepalanya menghisapi penisku.
"Ahh.. Kontolmu enak Wan.. Mbak suka.. Hmm" desah Mbak Sinta ketika dia menghentikan kulumannya untuk menjilati batang kemaluanku.
Sesaat kemudian, penisku kembali menyesaki mulutnya yang haus kejantanan lelaki itu. Sementara mulutnya menikmati kejantananku, tangan Mbak Sinta mengelus-elus buah zakarku. Aku tak kuasa lagi untuk menahan erangan nikmatku. Tanganku pun meremas-remas rambut Mbak Sinta gemas.
Mbak Sinta semakin cepat menghisapi penisku. Kadang mulutnya dimiringkan, sehingga penisku membuat pipinya tampak menggelembung. Tangannya pun semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Kemudian dikeluarkannya penisku dari mulutnya, dan kembali dijilatinya seluruh permukaan penisku sambil tangannya mengurut-urut buah zakarku.
"Keluarin di mulut Mbak Wan.. Mbak pengen minum spermamu.." katanya dengan nada memerintah.
Aku tentu tak menolak perintahnya. Memang aku sudah tidak tahan lagi. Sambil mengerang nikmat, aku pun mengalami ejakulasi. Saat itu, Mbak Sinta malah kembali mengulumi kemaluanku, sehingga spermaku pun masuk ke dalam mulutnya. Mbak Sinta kemudian menjilati kemaluanku sampai bersih.
"Enak Wan..?" tanyanya sambil menjilati spermaku di sudut bibirnya.
"Enak Mbak.." jawabku lemas.
Kami pun lalu kembali beristirahat sambil menonton tayangan DVD. Kali ini dilayar tampak seorang gadis ABG bule berambut coklat sedang belajar memancing. Tak lama gadis itu sudah bercumbu dengan pelatihnya. Si gadis ABG menaiki tubuh lawan mainnya, dan mulai memompa tubuhnya naik turun. Sementara si aktor, seorang lelaki setengah baya, meremasi payudara gadis tersebut yang bergelantungan indah. Adegan persetubuhan lalu dilanjutkan dengan gaya doggy style. Tak lama kami pun kembali terangsang.
"Wan.. Mbak pengen seperti itu. Mbak pengen ngerasain ngentotin kontolmu. Pasti lebih enak daripada punyanya Mas Joko" katanya sambil meraba kemaluanku dan mulai menciumi bibirku.
Mbak Sinta melepaskan rok mininya yang masih tersisa, lalu menaiki tubuhku dan mengarahkan kemaluanku pada lubang kewanitaannya.
"Ohh.." desahnya saat penisku mulai menerobos liang vaginanya.
Dia pun mulai memompa kemaluanku naik turun. Terkadang dia pun mengoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Suara deritan ranjang, erangan Mbak Sinta, serta erangan suara dari DVD memenuhi kamar kosku. Walaupun AC kamar telah dinyalakan, tetap saja tubuh kami berkeringat. Tetesan peluh itu mengalir dari wajah Mbak Sinta membasahi payudaranya. Aku segera membuka T-shirt yang masih aku pakai. Sementara itu, Mbak Sinta terus bergoyang menikmati kejantananku. Tanganku tak ketinggalan meremasi payudaranya yang kenyal. Beberapa menit kami bersetubuh dengan gaya ini.
"Ayo Wan.. Sekarang Mbak pengen dientotin dari belakang" katanya sambil bangkit dari tubuhku. Dia kemudian menungging sambil tangannya memegang ujung ranjang. Aku pun segera memasukkan penisku kembali ke dalam vaginanya.
"Ohh.. Enak Wan.. Terus Wan.. Ohh.. Yang cepat.. Ohh" desah Mbak Sinta saat kupompa tubuhnya. Tanganku meremasi payudaranya yang bergoyang menggemaskan. Terkadang kuremas pula pantatnya yang bulat padat menantang.
"Ayo Wan.. Mbak hampir sampai.. Terus wan.. Oh.. Ohh.. Ohh.."
Tubuh Mbak Sinta kembali mengejang, lalu rebah lemas di atas ranjang. Kali ini aku tak mau lagi 'menggantung'. Kubalikkan badan Mbak Sinta dan kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya yang telah licin oleh cairan orgasmenya. Kugenjot tubuh Mbak yang seksi ini dengan gaya missionary.
"Eh.. Eh.." demikian erangan yang keluar dari mulutnya seirama dengan genjotan tubuhku.
"Hisapi putingku Mbak" kataku.
Mulut Mbak Sinta pun kemudian menghisapi puting dadaku sementara aku menggenjot tubuhnya. Tak lama aku pun tak tahan lagi menahan ejakulasiku yang kedua. Wajah cantik Mbak Sinta ditambah dengan erangannya, serta jepitan vaginanya di kelaminku membuatku mencapai puncak.
"Aku sampai Mbak.. Ahh" jeritku tertahan ketika aku menyemburkan spermaku dalam rahimnya.
Kami pun terbaring lemas di atas ranjang. Puas sekali rasanya menyetubuhi Mbak Sinta nan ayu ini. Kunyalakan sebatang rokok untuknya dan satu untukku. Kami kemudian mengobrol dan bercanda sambil tiduran di atas ranjang.
"Wan.. Anterin aku pulang ya" katanya setelah dia menghabiskan rokoknya.
"Lho.. Udah malam Mbak nanggung. Nginep di sini aja"
"Wah jangan Wan.. Besok pagi Mas Joko mau jemput aku berangkat kerja. Aku juga nggak bawa pakaian ganti" jawabnya.
Akhirnya, aku mengantar dia ke rumahnya. Cuma aku menurunkannya agak sedikit jauh dari rumahnya agar tetangganya tidak curiga. Enak juga nonton DVD bareng Mbak Sinta. Mungkin aku akan semakin sering beli DVD nantinya.
*****
Untuk pembaca yang ingin berkenalan atau mengetahui rahasia sukses bisnisku, silakan menghubungi emailku di bawah.
Tamat
Pengasuhku tersayang
Pembaca yang sedang santai, kali ini aku akan menceritakan kejadian pada saat aku berumur kurang lebih 19 tahun. Kisah ini sebenarnya bermula ketika aku masih kecil, kira-kira berumur 7 tahun, dimana pada saat itu Ibu menyerahkanku kepada seorang wanita pengasuh (baby sitter) bernama Sari untuk mengurus segala keperluanku, baik mandi, makan, main, dll. Pengasuhku pada saat itu sebenarnya masih tergolong anak-anak juga dan kira-kira berumur 13 tahunan, dengan postur badan agak tinggi dibandingkan dengan usianya. Setiap hari, tugasnya secara rutin yaitu pagi-pagi memandikan kemudian menggantikan bajuku dan jika sudah agak siang, kami bermain bersama-sama.
Pada saat itu aku belum mempunyai perasaan apa-apa kecuali perasaan seorang anak terhadap pengasuhnya. Setiap memandikanku ia pasti selalu menggosok seluruh badanku, tidak ketinggalan pula alatku yang masih kecil. Hal ini berjalan kira-kira 3 tahun sampai dengan ia dinikahkan oleh orang tuanya dan diminta pulang ke desanya. Sejak saat itu aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya. Waktu berjalan terus, dan pertumbuhan badanku berkembang pesat menjadi seorang remaja berusia 19 tahun yang tampan. Pada suatu hari, keluarga kami kedatangan tamu dan ternyata dia adalah bekas pengasuhku dulu. Ia pun telah tumbuh menjadi sorang wanita muda yang matang dengan postur tubuhnya yang mempesona. Meskipun wajahnya tidak begitu cantik, tapi kemulusan dan kehalusan kulitnya dapat menambah nilai kecantikannya tersebut, maklum saja karena ia berasal dari desa yang berhawa dingin.
"Permisi.., Bu..", sapanya kepada ibuku.
"Oh.. kamu.. Sari.. Kok sekarang sudah segede ini. mana suami kamu?", tanya ibuku.
"Sudah pisah kok Bu".
"Lho, kenapa?".
"Itu Bu.., dia kawin sama perempuan lain".
"Oh ya Bu.., mana Den Rully?".
"Lha itu dia di sebelah kamu..".
Memang dari tadi aku terus memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Buah dadanya yang besar dibalut dengan baju lengan panjang warna biru tua, pinggulnya yang bulat dibungkus dengan rok warna cream dibawah lutut. Ck.., ck.., bukan main mantan pengasuhku ini.., pikirku.
"Aduh Deen.., kok sudah besar gini toch, mana ganteng lagi", sapanya.
"Lha iya wong diberi makan tiap hari kok", jawabku.
"Wah kalo gini sich, kalo ketemu di jalan, saya pasti pangling lho".
"Aku juga gitu.. kok Mbak.. pangling sama Mbak. Udah punya anak belum?".
"Belum Den".
"Jangan panggil Den ach.., Mas aja gitu lho. Kan Mbak sudah bukan pengasuhku lagi. Jadi hubungan kita seperti temen aja, ya khan".
"Iya deh Mas".
"Udah sana istirahat dulu", kata ibuku menyela.
"Terima kasih.., Bu".
Kemudian Sari pergi ke belakang mencari kamarnya yang dulu untuk tidur. Sejak kepergian Sari dulu, kamar tersebut hanya dijadikan tempat untuk menyeterika pakaian. Dan sejak aku dan saudaraku sudah berangkat remaja, Ibu tidak lagi mempekerjakan pembantu, sehingga kamar tersebut dapat digunakan lagi oleh Sari. Pada suatu hari, Ibu sedang ke pasar, saudaraku sedang kuliah, dan karena aku perlu pakaian untuk pergi ke rumah teman, maka aku menyeterika baju di ruang seterika. Di situ kebetulan tidak ada Sari, entah kemana.
Tetapi tiba-tiba Sari masuk kamar dengan rambut yang masih basah. Kelihatannya dia baru saja selesai mandi dan keramas.
"Oh ada Mas Rully toch".
"Maaf ya Mbak ngganggu, sebentar kok, cuman satu baju".
"Kalo boleh saya bantu Mas.., biar cepat selesai".
"Ah.. nggak usah. Makin lama di sini makin seneng kok..", godaku.
"Ah.. Mas bisa aja".
"Mbak sekarang kerjanya di mana?".
"Nggak ada Mas, makanya saya mau minta tolong sama Ibu".
"Aku dukung dech Mbak, biar nanti bisa mandiin aku lagi", godaku lagi.
"Kan udah nggak bisa lagi".
"Kenapa? Apa karena saya sudah besar?", suaraku sudah mulai terbata-bata menahan nafsu yang sudah mulai datang. Kulihat mukanya memerah. Dadanya turun naik, sehingga semakin terlihat menonjol di balik blusnya yang agak tipis.
"Kan malu Mas..".
"Ya kalo dilihat orang sich malu, tapi kalo cuma berdua kan enggak", pancingku.
Tanganku mulai mencoba memegang tangan kirinya. Ia diam saja. Tangan kiriku menarik bahunya yang kanan untuk mendekatkannya ke tubuhku. "Jangan Mas.., nanti dilihat orang.. nanti Ibu datang", katanya bergetar. Tampaknya ia juga sudah mulai merasakan rangsanganku.Aku sudah tidak peduli, kutarik dengan perlahan-lahan wajahnya ke wajahku, dan dengan lembut kucium bibirnya.., "Uuch.., ehm.., ja.., ngan.., Maass.., ach..", dan dengan perlahan-lahan lidahku kumasukkan ke mulutnya dan kumainkan, "Aach.., saya mohon Mas.., jangan..", dengan lemah lembut didorongnya tubuhku untuk menjauhi dirinya.
Tapi nafsuku pada saat itu seakan-akan sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Kutarik lagi dengan agak memaksa tubuhnya kedalam pelukanku, dan kucium lehernya yang mulus.., kubuka kancing blusnya yang paling atas, sehingga tonjolan buah dadanya yang besar sedikit terlihat sehingga membuatku semakin benafsu.., "Aduh.., Mas.., jangan Mas..", pintanya. Namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar.., "Tok.., tok.., Rully.., tolong bukain pintunya..", Ibu datang.., waduh.., aku menggumam dalam hati.. "Mas, itu ibu datang..", kata Sari sambil membenahi dirinya yang agak kusut karena ulahku tadi.
Siang itu nafsuku belum tercapai. Baru pertama kali itu aku melakukan hal-hal seperti di atas dengan seorang wanita. Selama seharian aku tidak dapat memejamkan mata. Pikiranku terus melayang-layang sampai beberapa hari. Kupikir betapa nikmatnya apabila aku dapat menyelesaikan permainan diatas sampai tuntas. Kesempatan lain ternyata masih ada, ketika itu seisi rumah sedang keluar dan cuaca di luar agak dingin, karena hari menjelang sore. Saat itu Sari sedang menyapu ruang tengah. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih agak longgar, bercelana pendek jeans, Sari tampak seperti bukan bekas seorang pengasuh. Kulitnya yang putih bersih, dengan rambut tergerai sebahu dan buah dada yang besar membuat jantungku berdegup tidak karuan.
Aku sudah tidak tahan lagi, kutubruk tubuh Sari, kupeluk, kucium bibir, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Kulumat bibirnya, meskipun dia sedikit agak meronta, tetapi tidak sekeras pada saat sebelumnya. Tanganku mulai beraksi, meraba pinggangnya, kemudian menyibakkan kaos oblongnya ke atas sehingga sampailah pada kaitan tali BH yang berada di belakangnya. Kubuka kaitannya, kemudian tanganku merayap ke depan hingga tersentuhlah buah dadanya yang masih padat, meskipun agak turun sedikit saking besarnya. Kuremas dengan perlahan sekali.., kupilin putingnya yang sudah berdiri tegak. "Ach.., ach..", desah Sari. Sekarang dia sudah tidak meronta lagi, tetapi bahkan terlihat menikmati apa yang kulakukan. Kusibak lebih keatas lagi kaosnya dan kuturunkan mulutku ke putingnya, kucium.., kemudian kusedot dengan perlahan sekali.., "Ach.., aduh mas.., aduh Mas.., Maas.. Kepalanya menengadah seakan-akan menyodorkan buah dadanya untuk lebih dimainkan olehku.
Lama mulutku bermain di buah dadanya sampai akhirnya tangannya memegang tanganku dan membimbingnya ke bawah untuk menjamah kewanitaannya. Aku turuti keinginannya dan kugosok vaginanya dari luar celananya.., "Auh.., auh.. nikmat.. Mas". Sekarang posisi tangan kananku sedang menggosok kemaluannya dan mulutku terus mempermainkan buah dadanya. Kemudian tanganku masuk ke dalam celana jeansnya, dan.., aduh mak.., tersentuhlah rambut halus yang telah lembab. "Uuch.., uch..", dia mendesah. Sambil terpejam menikmati apa yang kulakukan, tanganku mulai menyibak rambut kemaluannya tadi dan tersentuhlah olehku klitnya.. dan "Aauch.., auch.. Mas.. nikmat sekali".
Beberapa saat lamanya ia pasrah dan diam tanpa reaksi. Lama kelamaan, mungkin ia sendiri tidak tahan, hingga ia pun mulai menggerakkan tangannya mula-mula membelai dadaku kemudian turun ke perut dan akhirnya ke celana dalamku. pada saat itu aku mengenakan celana pendek olah raga, dengan kaus singlet diatasnya. Dia menyentuh penisku, diremasnya dengan lembut, dikocoknya dari luar.. "Uugh.., ugh..", aku merintih kenikmatan "Aadduhh Mbak.., Mbak pintar deh..", "Ah, Mas juga pintar kok.., malah terlalu pintar dibandingkan usia Mas sendiri..", desahnya. Kemudian kuseret dia masuk ke dalam kamarku, dan kurebahkan di atas dipanku. Dia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga berada diatasku.. aduh mak, buah dadanya betul-betul indah menggantung di atas hidungku. Kucium dengan gemas dan kumainkan putingnya dengan mulutku, "Aaacchh.., auch Mas.., auch.., auch..", sementara itu kulepaskan celana jeans dan celana dalamnya, sambil tangan kiriku terus memeluk pinggangnya dan tangan kananku meremas pantatnya yang masih bulat segar, dan mulutku tetap berada di putingnya. Sementara itu tangannya meremas penisku dengan sedikit mengocok.
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya sehingga kami berada pada posisi 69. Dengan nafsu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya "Aach.., ach..", bandel juga Mbak ini batinku, tapi tentu saja aku juga menikmatinya. Dikocoknya penisku dengan mulutnya. Tampaknya ia sudah berpengalaman dengan gaya-gaya yang aduhai. Aku tidak mau kalah, kubuka kewanitaannya dengan tangan, kemudian kujulurkan lidahku dan mulailah aku menjilati bagian yang paling terlarang itu, "Uuch.., uch..". Kami berpagut lama sekali hingga rasa-rasanya aku ingin segera memasukkan alatku ke liang surgawinya. "Maas..". "Ya, Mbak..". "Tolong dong dimasukin.., saya udah nggak tahan nih.. udah lama saya nggak disentuh, tolong dong mas..". Aku berpikir sejenak.., bagaimana kalau nanti dia hamil, bagaimana nanti kalau ketahuan oleh Ibu, dll. Tapi aku sendiri sebetulnya juga sudah tidak tahan.., dan akhirnya, "Baik Mbak, ta.. pi.., kalau Mbak hamil gimana dong.." "Saya pakai KB kok mas..", katanya. "Baik Mbak..", kemudian tubuhnya membalik kembali, tetapi posisinya masih di atas. Ia pegang penisku dengan lembut dan menuntunnya memasuki liang surgawinya, dan., "Aachh.., sshh.., sshh..". Penisku serasa dijepit oleh sesuatu yang berdenyut-denyut lembut, dan itu adalah kewanitaannya.
Dia memompa dari atas naik turun beberapa kali, kemudian akhirnya dia merebahkan dirinya ke samping saya, dan meminta saya untuk menyetubuhinya dari atas. Aku naik ke tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulailah aku memompa dari atas, "Aauch.., auucchh, Mass.., saya mau pipiss.., aachh.., aachh..", dijepitnya pinggangku dengan kedua kakinya. Penisku serasa akan pecah disedot oleh vaginanya yang bersamaan dengan keluarnya "pipis"nya dan akhirnya akupun tidak tahan, dan, "Aach..", maniku muncrat di dalam kewanitaannya, "Heh.., heh.", kamipun lunglai ngos-ngosan. Sambil saling tersenyum, kucium bibirnya, kupeluk, dan sambil berkata, "Terima kasih ya Mbak..", "Malah aku yang harus berterima kasih sama Mas, karena Mas telah memberi saya kenikmatan yang sudah lama tidak saya peroleh". Pada hari-hari selanjutnya, kami bersikap biasa saja seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sekian dulu ya, pembaca. Bagi yg ingin berkomentar (terutama untuk para cewek), silakan email saya.
TAMAT
Pada saat itu aku belum mempunyai perasaan apa-apa kecuali perasaan seorang anak terhadap pengasuhnya. Setiap memandikanku ia pasti selalu menggosok seluruh badanku, tidak ketinggalan pula alatku yang masih kecil. Hal ini berjalan kira-kira 3 tahun sampai dengan ia dinikahkan oleh orang tuanya dan diminta pulang ke desanya. Sejak saat itu aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya. Waktu berjalan terus, dan pertumbuhan badanku berkembang pesat menjadi seorang remaja berusia 19 tahun yang tampan. Pada suatu hari, keluarga kami kedatangan tamu dan ternyata dia adalah bekas pengasuhku dulu. Ia pun telah tumbuh menjadi sorang wanita muda yang matang dengan postur tubuhnya yang mempesona. Meskipun wajahnya tidak begitu cantik, tapi kemulusan dan kehalusan kulitnya dapat menambah nilai kecantikannya tersebut, maklum saja karena ia berasal dari desa yang berhawa dingin.
"Permisi.., Bu..", sapanya kepada ibuku.
"Oh.. kamu.. Sari.. Kok sekarang sudah segede ini. mana suami kamu?", tanya ibuku.
"Sudah pisah kok Bu".
"Lho, kenapa?".
"Itu Bu.., dia kawin sama perempuan lain".
"Oh ya Bu.., mana Den Rully?".
"Lha itu dia di sebelah kamu..".
Memang dari tadi aku terus memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Buah dadanya yang besar dibalut dengan baju lengan panjang warna biru tua, pinggulnya yang bulat dibungkus dengan rok warna cream dibawah lutut. Ck.., ck.., bukan main mantan pengasuhku ini.., pikirku.
"Aduh Deen.., kok sudah besar gini toch, mana ganteng lagi", sapanya.
"Lha iya wong diberi makan tiap hari kok", jawabku.
"Wah kalo gini sich, kalo ketemu di jalan, saya pasti pangling lho".
"Aku juga gitu.. kok Mbak.. pangling sama Mbak. Udah punya anak belum?".
"Belum Den".
"Jangan panggil Den ach.., Mas aja gitu lho. Kan Mbak sudah bukan pengasuhku lagi. Jadi hubungan kita seperti temen aja, ya khan".
"Iya deh Mas".
"Udah sana istirahat dulu", kata ibuku menyela.
"Terima kasih.., Bu".
Kemudian Sari pergi ke belakang mencari kamarnya yang dulu untuk tidur. Sejak kepergian Sari dulu, kamar tersebut hanya dijadikan tempat untuk menyeterika pakaian. Dan sejak aku dan saudaraku sudah berangkat remaja, Ibu tidak lagi mempekerjakan pembantu, sehingga kamar tersebut dapat digunakan lagi oleh Sari. Pada suatu hari, Ibu sedang ke pasar, saudaraku sedang kuliah, dan karena aku perlu pakaian untuk pergi ke rumah teman, maka aku menyeterika baju di ruang seterika. Di situ kebetulan tidak ada Sari, entah kemana.
Tetapi tiba-tiba Sari masuk kamar dengan rambut yang masih basah. Kelihatannya dia baru saja selesai mandi dan keramas.
"Oh ada Mas Rully toch".
"Maaf ya Mbak ngganggu, sebentar kok, cuman satu baju".
"Kalo boleh saya bantu Mas.., biar cepat selesai".
"Ah.. nggak usah. Makin lama di sini makin seneng kok..", godaku.
"Ah.. Mas bisa aja".
"Mbak sekarang kerjanya di mana?".
"Nggak ada Mas, makanya saya mau minta tolong sama Ibu".
"Aku dukung dech Mbak, biar nanti bisa mandiin aku lagi", godaku lagi.
"Kan udah nggak bisa lagi".
"Kenapa? Apa karena saya sudah besar?", suaraku sudah mulai terbata-bata menahan nafsu yang sudah mulai datang. Kulihat mukanya memerah. Dadanya turun naik, sehingga semakin terlihat menonjol di balik blusnya yang agak tipis.
"Kan malu Mas..".
"Ya kalo dilihat orang sich malu, tapi kalo cuma berdua kan enggak", pancingku.
Tanganku mulai mencoba memegang tangan kirinya. Ia diam saja. Tangan kiriku menarik bahunya yang kanan untuk mendekatkannya ke tubuhku. "Jangan Mas.., nanti dilihat orang.. nanti Ibu datang", katanya bergetar. Tampaknya ia juga sudah mulai merasakan rangsanganku.Aku sudah tidak peduli, kutarik dengan perlahan-lahan wajahnya ke wajahku, dan dengan lembut kucium bibirnya.., "Uuch.., ehm.., ja.., ngan.., Maass.., ach..", dan dengan perlahan-lahan lidahku kumasukkan ke mulutnya dan kumainkan, "Aach.., saya mohon Mas.., jangan..", dengan lemah lembut didorongnya tubuhku untuk menjauhi dirinya.
Tapi nafsuku pada saat itu seakan-akan sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Kutarik lagi dengan agak memaksa tubuhnya kedalam pelukanku, dan kucium lehernya yang mulus.., kubuka kancing blusnya yang paling atas, sehingga tonjolan buah dadanya yang besar sedikit terlihat sehingga membuatku semakin benafsu.., "Aduh.., Mas.., jangan Mas..", pintanya. Namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar.., "Tok.., tok.., Rully.., tolong bukain pintunya..", Ibu datang.., waduh.., aku menggumam dalam hati.. "Mas, itu ibu datang..", kata Sari sambil membenahi dirinya yang agak kusut karena ulahku tadi.
Siang itu nafsuku belum tercapai. Baru pertama kali itu aku melakukan hal-hal seperti di atas dengan seorang wanita. Selama seharian aku tidak dapat memejamkan mata. Pikiranku terus melayang-layang sampai beberapa hari. Kupikir betapa nikmatnya apabila aku dapat menyelesaikan permainan diatas sampai tuntas. Kesempatan lain ternyata masih ada, ketika itu seisi rumah sedang keluar dan cuaca di luar agak dingin, karena hari menjelang sore. Saat itu Sari sedang menyapu ruang tengah. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih agak longgar, bercelana pendek jeans, Sari tampak seperti bukan bekas seorang pengasuh. Kulitnya yang putih bersih, dengan rambut tergerai sebahu dan buah dada yang besar membuat jantungku berdegup tidak karuan.
Aku sudah tidak tahan lagi, kutubruk tubuh Sari, kupeluk, kucium bibir, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Kulumat bibirnya, meskipun dia sedikit agak meronta, tetapi tidak sekeras pada saat sebelumnya. Tanganku mulai beraksi, meraba pinggangnya, kemudian menyibakkan kaos oblongnya ke atas sehingga sampailah pada kaitan tali BH yang berada di belakangnya. Kubuka kaitannya, kemudian tanganku merayap ke depan hingga tersentuhlah buah dadanya yang masih padat, meskipun agak turun sedikit saking besarnya. Kuremas dengan perlahan sekali.., kupilin putingnya yang sudah berdiri tegak. "Ach.., ach..", desah Sari. Sekarang dia sudah tidak meronta lagi, tetapi bahkan terlihat menikmati apa yang kulakukan. Kusibak lebih keatas lagi kaosnya dan kuturunkan mulutku ke putingnya, kucium.., kemudian kusedot dengan perlahan sekali.., "Ach.., aduh mas.., aduh Mas.., Maas.. Kepalanya menengadah seakan-akan menyodorkan buah dadanya untuk lebih dimainkan olehku.
Lama mulutku bermain di buah dadanya sampai akhirnya tangannya memegang tanganku dan membimbingnya ke bawah untuk menjamah kewanitaannya. Aku turuti keinginannya dan kugosok vaginanya dari luar celananya.., "Auh.., auh.. nikmat.. Mas". Sekarang posisi tangan kananku sedang menggosok kemaluannya dan mulutku terus mempermainkan buah dadanya. Kemudian tanganku masuk ke dalam celana jeansnya, dan.., aduh mak.., tersentuhlah rambut halus yang telah lembab. "Uuch.., uch..", dia mendesah. Sambil terpejam menikmati apa yang kulakukan, tanganku mulai menyibak rambut kemaluannya tadi dan tersentuhlah olehku klitnya.. dan "Aauch.., auch.. Mas.. nikmat sekali".
Beberapa saat lamanya ia pasrah dan diam tanpa reaksi. Lama kelamaan, mungkin ia sendiri tidak tahan, hingga ia pun mulai menggerakkan tangannya mula-mula membelai dadaku kemudian turun ke perut dan akhirnya ke celana dalamku. pada saat itu aku mengenakan celana pendek olah raga, dengan kaus singlet diatasnya. Dia menyentuh penisku, diremasnya dengan lembut, dikocoknya dari luar.. "Uugh.., ugh..", aku merintih kenikmatan "Aadduhh Mbak.., Mbak pintar deh..", "Ah, Mas juga pintar kok.., malah terlalu pintar dibandingkan usia Mas sendiri..", desahnya. Kemudian kuseret dia masuk ke dalam kamarku, dan kurebahkan di atas dipanku. Dia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga berada diatasku.. aduh mak, buah dadanya betul-betul indah menggantung di atas hidungku. Kucium dengan gemas dan kumainkan putingnya dengan mulutku, "Aaacchh.., auch Mas.., auch.., auch..", sementara itu kulepaskan celana jeans dan celana dalamnya, sambil tangan kiriku terus memeluk pinggangnya dan tangan kananku meremas pantatnya yang masih bulat segar, dan mulutku tetap berada di putingnya. Sementara itu tangannya meremas penisku dengan sedikit mengocok.
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya sehingga kami berada pada posisi 69. Dengan nafsu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya "Aach.., ach..", bandel juga Mbak ini batinku, tapi tentu saja aku juga menikmatinya. Dikocoknya penisku dengan mulutnya. Tampaknya ia sudah berpengalaman dengan gaya-gaya yang aduhai. Aku tidak mau kalah, kubuka kewanitaannya dengan tangan, kemudian kujulurkan lidahku dan mulailah aku menjilati bagian yang paling terlarang itu, "Uuch.., uch..". Kami berpagut lama sekali hingga rasa-rasanya aku ingin segera memasukkan alatku ke liang surgawinya. "Maas..". "Ya, Mbak..". "Tolong dong dimasukin.., saya udah nggak tahan nih.. udah lama saya nggak disentuh, tolong dong mas..". Aku berpikir sejenak.., bagaimana kalau nanti dia hamil, bagaimana nanti kalau ketahuan oleh Ibu, dll. Tapi aku sendiri sebetulnya juga sudah tidak tahan.., dan akhirnya, "Baik Mbak, ta.. pi.., kalau Mbak hamil gimana dong.." "Saya pakai KB kok mas..", katanya. "Baik Mbak..", kemudian tubuhnya membalik kembali, tetapi posisinya masih di atas. Ia pegang penisku dengan lembut dan menuntunnya memasuki liang surgawinya, dan., "Aachh.., sshh.., sshh..". Penisku serasa dijepit oleh sesuatu yang berdenyut-denyut lembut, dan itu adalah kewanitaannya.
Dia memompa dari atas naik turun beberapa kali, kemudian akhirnya dia merebahkan dirinya ke samping saya, dan meminta saya untuk menyetubuhinya dari atas. Aku naik ke tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulailah aku memompa dari atas, "Aauch.., auucchh, Mass.., saya mau pipiss.., aachh.., aachh..", dijepitnya pinggangku dengan kedua kakinya. Penisku serasa akan pecah disedot oleh vaginanya yang bersamaan dengan keluarnya "pipis"nya dan akhirnya akupun tidak tahan, dan, "Aach..", maniku muncrat di dalam kewanitaannya, "Heh.., heh.", kamipun lunglai ngos-ngosan. Sambil saling tersenyum, kucium bibirnya, kupeluk, dan sambil berkata, "Terima kasih ya Mbak..", "Malah aku yang harus berterima kasih sama Mas, karena Mas telah memberi saya kenikmatan yang sudah lama tidak saya peroleh". Pada hari-hari selanjutnya, kami bersikap biasa saja seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sekian dulu ya, pembaca. Bagi yg ingin berkomentar (terutama untuk para cewek), silakan email saya.
TAMAT
Pacar kakakku
Siang itu aku sendirian. Papa, Mama dan Mbak Sari mendadak ke Jakarta karena nenek sakit. Aku nggak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang nggak bisa aku tinggalin. Daripada bengong sendirian aku iseng bersih-bersih rumah. Pas aku lagi bersihin kamar Mbak Sari aku nemu sekeping vCD. Ketika aku merhatiin sampulnya.. astaga!! ternyata gambarnya sepasang bule yang sedang berhubungan sex. Badanku gemetar, jantungku berdegup kencang. Pikiranku menerawang saat kira-kira 1 bulan yang lalu aku tanpa sengaja mengintip Mbak Sari dengan pacarnya berbuat seperti yang ada di sampul vCD tsb. Sejak itu aku sering bermasturbasi membayangkan sedang bersetubuh.
Tadinya aku bermaksud mengembalikan vCD tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Jujur aja aku baru sekali ini nonton blue film.
Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak menyambutnya dengan penuh gairah.
Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya woww!!
Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku sendiri. Dan,
"Oohh.. oohh.."
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.
"Gawat!" pikirku.
"Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?".
Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya Mas Andi pacar Mbak Sari dari Bandung.
"Halo Ulfa sayang, Mbak Sarinya ada?"
"Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Andi dulu?"
"Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri."
"Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik" usulku sekenanya.
Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Andi. Mas Andi menyetujui usulku. Ternyata Mbak Sari cuman ngomong supaya nginep dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti ada kesempatan nih.
Aku mempersilakan Mas Andi mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku perhatiin tampang dan bodi Mas Andi yang keren, kubayangkan Mas Andi sedang telanjang sambil memperlihatkan "tongkat kastinya". Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Andi ama Mbak Sari lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.
"Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!" ujarku salting.
"Mas Andi nonton TV aja nggak papa kan?"
"Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!"
Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi 165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas Andi menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.
Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas Andi di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.
Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Andi. Mas Andi tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya itu.
"Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?"
Mas Andi tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD player."
Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!" ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.
"Oh iya deh."
Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga bawukku mengintip keluar dengan indahnya.
"Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?" tanyaku tiba-tiba.
"Eh kok tau-tau nanya gitu sih?"
Mas Andi agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.
"Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Sari lagi gituan.. nggak papa kok, rahasia terjaga!"
"Oya? He he he yaa.. enak sih."
Mas Andi tersipu mendengar ledekanku.
Akupun melanjutkan, "Mas, vaginaku sama punya Mbak Sari lebih indah mana?" tanyaku sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun terpampang jelas.
"Ehh glek bagusan punyamu."
"Terus kalo toketnya montokan mana?" kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.
"Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!"
Mas Andi tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang.
"Sekarang giliran aku liat punya Mas Andi!"
Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Andi. Kucopoti seluruh pakaiannya sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Andi dari dekat. Badannya agak langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
"Wah gede banget! Aku isep ya Mas!"
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.
"Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh."
Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Andi akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.
"Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas"
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
"Auwh geli nikmat aah ouw!"
Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil atau dihisap dengan kuat.
"Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!" jeritku.
"Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh".
Mas Andi terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
"Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan.."
Mas Andi lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.
"Aauw sakit Mas pelan-pelan akh.."
Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.
"Au.. sakit"
Mas Andi tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Sari tempikku jauh lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
"Au.. sakit.."
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku, persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Andi memompa pantatnya maju mundur.
"Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!"
"Aakh! Aakh! Auw!"
Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.
"Ooh.. lebih keras, lebih cepat"
Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.
Tapi Mas Andi malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,
"Jrebb.. Ooh.." aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
"Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas"
"Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor"
Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan dan
"Aah mau orgasme Mas.."
Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Andi merasa sesak karena desakan susuku yang montok itu.
"Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!"
Aku mencabut vaginaku lalu Mas Andi duduk di sofa sambil mememerkan 'tiang listriknya'. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil sesekali aku isap dengan kuat.
"Crupp.. slurp.. mmh.."
"Oh yes.. kocok yang kuat sayang!"
Mas Andi mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.
"Crupp crupp slurp!"
"Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!"
Aku semakin bersemangat ngerjain penis big size itu. Makin lama makin cepat cepat Cepat, lalu lalu
"Croot.. croot.."
Penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah, tetek dan hampir seluruh tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa maninya dapat kurasakan dan kutelan.
Akhirnya kami berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat. Malam itu kami mengulanginya hingga 4 kali dan kemudian tidur berpelukan dengan tubuh telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.
Tamat
Tadinya aku bermaksud mengembalikan vCD tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Jujur aja aku baru sekali ini nonton blue film.
Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak menyambutnya dengan penuh gairah.
Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya woww!!
Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku sendiri. Dan,
"Oohh.. oohh.."
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.
"Gawat!" pikirku.
"Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?".
Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya Mas Andi pacar Mbak Sari dari Bandung.
"Halo Ulfa sayang, Mbak Sarinya ada?"
"Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Andi dulu?"
"Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri."
"Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik" usulku sekenanya.
Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Andi. Mas Andi menyetujui usulku. Ternyata Mbak Sari cuman ngomong supaya nginep dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti ada kesempatan nih.
Aku mempersilakan Mas Andi mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku perhatiin tampang dan bodi Mas Andi yang keren, kubayangkan Mas Andi sedang telanjang sambil memperlihatkan "tongkat kastinya". Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Andi ama Mbak Sari lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.
"Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!" ujarku salting.
"Mas Andi nonton TV aja nggak papa kan?"
"Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!"
Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi 165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas Andi menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.
Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas Andi di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.
Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Andi. Mas Andi tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya itu.
"Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?"
Mas Andi tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD player."
Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!" ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.
"Oh iya deh."
Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga bawukku mengintip keluar dengan indahnya.
"Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?" tanyaku tiba-tiba.
"Eh kok tau-tau nanya gitu sih?"
Mas Andi agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.
"Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Sari lagi gituan.. nggak papa kok, rahasia terjaga!"
"Oya? He he he yaa.. enak sih."
Mas Andi tersipu mendengar ledekanku.
Akupun melanjutkan, "Mas, vaginaku sama punya Mbak Sari lebih indah mana?" tanyaku sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun terpampang jelas.
"Ehh glek bagusan punyamu."
"Terus kalo toketnya montokan mana?" kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.
"Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!"
Mas Andi tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang.
"Sekarang giliran aku liat punya Mas Andi!"
Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Andi. Kucopoti seluruh pakaiannya sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Andi dari dekat. Badannya agak langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
"Wah gede banget! Aku isep ya Mas!"
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.
"Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh."
Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Andi akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.
"Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas"
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
"Auwh geli nikmat aah ouw!"
Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil atau dihisap dengan kuat.
"Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!" jeritku.
"Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh".
Mas Andi terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
"Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan.."
Mas Andi lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.
"Aauw sakit Mas pelan-pelan akh.."
Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.
"Au.. sakit"
Mas Andi tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Sari tempikku jauh lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
"Au.. sakit.."
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku, persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Andi memompa pantatnya maju mundur.
"Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!"
"Aakh! Aakh! Auw!"
Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.
"Ooh.. lebih keras, lebih cepat"
Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.
Tapi Mas Andi malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,
"Jrebb.. Ooh.." aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
"Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas"
"Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor"
Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan dan
"Aah mau orgasme Mas.."
Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Andi merasa sesak karena desakan susuku yang montok itu.
"Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!"
Aku mencabut vaginaku lalu Mas Andi duduk di sofa sambil mememerkan 'tiang listriknya'. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil sesekali aku isap dengan kuat.
"Crupp.. slurp.. mmh.."
"Oh yes.. kocok yang kuat sayang!"
Mas Andi mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.
"Crupp crupp slurp!"
"Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!"
Aku semakin bersemangat ngerjain penis big size itu. Makin lama makin cepat cepat Cepat, lalu lalu
"Croot.. croot.."
Penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah, tetek dan hampir seluruh tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa maninya dapat kurasakan dan kutelan.
Akhirnya kami berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat. Malam itu kami mengulanginya hingga 4 kali dan kemudian tidur berpelukan dengan tubuh telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.
Tamat
Orgasme perdana Verne - 1
Setelah menuliskan "Ria, My First Sex Partner", aku mendapatkan email dari seorang wanita yang bernama Verne. Usianya 27 tahun. Dia tinggal di satu kota yang berbeda dengan kota tempat tinggalku. Emailnya singkat, hanya menanyakan kebenaran ceritaku. Setelah beberapa kali saling berkirim email, Verne memberikan nomor handphone-nya padaku.
"Boy.. Kamu tinggal di kota mana sih?" tanyanya di email.
"Kota ini.. Cuma aku sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnisku" jawabku.
"Wah liburan lebaran ini aku mau ke kotamu."
"Oh ya? Okay nanti kita atur waktu untuk bertemu. Siapa tahu kita bisa kencan.. Oh ya kirim fotomu dong?" balasku di email.
"Sory, gue nggak ada foto.." balas Verne.
"Ah masa.. Pasti ada lah.." bagiku hampir tak mungkin seseorang tak punya foto.
"Ada sih, tapi jelek.. Ntar aja kalau aku ke kotamu aku foto dan kasih ke kamu"
Yah, aku tahu Verne jujur. Dari isi emailnya, aku tahu dia tidak suka basa basi. Karena itu aku okay saja menunggu fotonya.
Hari kedatangan Verne tiba. Malamnya aku meneleponnya.
"Udah nyampe? Kamu tinggal di mana?"
"Udah dari tadi.. Tinggal di sini.." katanya menyebutkan nama suatu daerah.
"Bisa tahu nomor teleponnya? Aku telepon di rumah saja ya?"
Aku ingin tahu apakah dia mau memberikan nomor teleponnya. Sekalian berhematlah. Ternyata Verne mau memberikan nomor teleponnya. Lalu aku meneleponnya. Kami bicara tidak banyak karena aku memang sedang sibuk. Lalu aku membuat janji untuk datang ke rumahnya.
Aku datang beberapa hari kemudian. Di perjalanan aku berdebar-debar memikirkan seperti apa si Verne ini. Setelah sempat salah rumah, aku menemukan rumahnya. Verne manis orangnya. (kalau baca cerita ini jangan senyum sendiri ya, Verne!), tubuhnya seksi dengan tinggi 170 cm/65 kg. Kate Winslet memiliki postur 168 cm/65 kg. Jadi bisa dibayangkan kira-kira tubuh Verne, sama sekali tidak gemuk menurutku. Beratnya mungkin banyak terfokus di payudara dan pinggulnya yang seksi. Belakangan aku baru tahu ukuran bra-nya 36B. Kulitnya kuning seperti orang Chinese kebanyakan. Dengan rambut sebahu, bibir penuh dan tanpa make up, dia kelihatan natural.
Kami bicara cukup lama. Orangnya enak diajak bicara. Banyak bahan yang bisa dia ceritakan. Mulai pekerjaannya, mantan pacarnya, teman-temannya, keluarganya, sampai akhirnya kami membicarakan cerita yang kutulis, respon pembaca dan banyak hal lain. Satu hal yang kusukai darinya adalah keterusterangannya. Meskipun kadang topik sex membuatnya malu, tetapi Verne tetap menyambut setiap bahan pembicaraan kami. Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan aku memutuskan untuk pulang. Dalam hati aku masih bimbang untuk mengajaknya berkencan atau tidak. Akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk dan menyita waktuku.
Kami berdua berjalan menuju gerbang rumahnya. Verne tinggal di rumah neneknya selama di kotaku. Mataku menjelajahi rumah dan sekelilingnya. Banyak orang di rumah seberang. Wah, padahal aku ingin menciumnya. Ketika Verne membukakan kunci gerbang, bahunya yang terbuka putih mulus membuatku ingin memeluk dan mencium tengkuknya. Akan tetapi aku tak jadi melakukannya.
"Aku pulang ya.. Verne? Tunggu besok ya, kalau ada waktu aku akan mengajakmu kencan" kataku. Verne mengangguk.
Aku segera masuk mobilku dan pulang. Sampai di rumah aku menulis SMS untuk Verne.
"Verne.. Menurutmu aku orangnya gimana?"
"Kamu cute, Boy. Tinggi juga tubuhmu. Aku baru kali ini sampai mendongakkan kepalaku waktu bicara dengan cowok.. Soalnya aku tinggi juga.. Kalau aku menurutmu?"
"You're so sweet, girl.. Tadi aku ingin menciummu tapi banyak orang.."
"Wah.. Thanks.. U ingin menciumku? Aku juga lho.. Tapi kukira Boy tidak tertarik padaku tadi.." astaga.. Siapa yang tidak tertarik dengan bibir penuh dan tubuh tinggi seksi itu?
"What a missing moment! Aduh.. Tahu gitu tadi aku akan mengajakmu masuk mobil dan menciummu!" aku jadi menyesal tidak menciumnya tadi. Aku kehilangan kesempatan bagus.
"Iya.. Aku jadi kepikiran missing moment tadi.."
"Oh ya Verne.. Kalau besok aku pasti tidak bisa mengajakmu keluar. Ada janji dengan client. Mungkin besok lusa ya.. Aku ke rumahmu malam."
"Oh.. Besok gak bisa ya? Aku available-nya cuma sampai besok lusa malam. Pagi-pagi aku sudah pulang ke kotaku.."
"Oh gitu? Ya besok lusa aja deh. Gimana kalau kita ke hotel saja?"
"Tak masalah. Tapi tidak bisa menginap lho. Soalnya paginya aku sudah harus pulang.."
Aku mulai menghitung waktu. Kesibukanku yang luar biasa sangat menguras fisikku. Aku tiba-tiba kuatir tidak bisa memuaskan Verne. Bagaimana jika nanti aku lemah? Aku pun menulis SMS lagi ke Verne.
"Tapi kalau aku capek, kita tidak usah ke hotel ya? Daripada belum-belum aku sudah ejakulasi.. Kan kasihan kamunya kalau tidak bisa orgasme.."
"Aku tidak mengejar orgasme, Boy. Bagaimana kalau aku bilang, sangat sulit membuatku orgasme? Aku suka aktifitasnya. Cium, peluk, have sex, making love.. Aku tidak mengejar orgasmenya.."
Aku jadi bingung sendiri. Aku tidak mungkin melepas pekerjaanku, tetapi aku juga tidak ingin melepas kesempatan bercinta dengan salah satu pembaca Rumah Seks ini yang sudah jauh-jauh ke datang kotaku. Aku masih berpikir ketika SMS dari Verne datang lagi.
"Boy.. Ini one nite stand pertamaku. Aku ke kotamu belum tentu 1 tahun sekali. Mungkin kita tidak akan punya kesempatan ke dua kalinya.."
"Aku cuma kuatir nanti akan mengecewakanmu.." balasku.
"Boy, bukankah seharusnya yang memutuskan kecewa atau tidak itu aku? Jangan seperti itu.. karena justru membuatku kepikiran. Make no sense banget deh.."
Ya, Verne benar. Kesempatan di depan mata yang mungkin tidak akan terulang lagi tidak boleh disia-siakan.
"Oke deh.. Besok jam 5 sore aku jemput. Kita ke hotel short time saja. Oh ya Verne.. Pasanganmu biasanya pake kondom tidak? Aku terbiasa pake kondom. Demi menjaga kesehatan dan mencegah kehamilan" tulisku lagi di SMS.
"Boy, aku minum pil anti hamil kok. Aku juga bersih, bebas penyakit."
"Aku juga sehat, Verne.. Soalnya aku baru 1x tanpa kondom, dengan Cie Yeni itu.." kataku.
"Boy, ini one nite stand pertamaku. Selama ini aku having sex dengan orang yang sudah kukenal lama. Jadi, kalau kamu mau pake kondom, itu better for me."
Ya, pikiran Verne sama denganku. Kami belum saling kenal sebelumnya. Resiko terkena penyakit cukup besar.
"Wah.. Thanks Verne. Tadi aku kuatir menyinggung perasaanmu. Kalau gitu aku akan pakai kondom saja.. Oh ya, u aktif atau pasif waktu ML?"
"Aku tergantung pasanganku. Bisa aktif bisa pasif. Kamu suka cewek yang seperti apa Boy?"
"Aku suka cewek aktif. Boleh agresif boleh tidak. Tetapi yang penting aktif. Kalau oral atau dioral kamu suka?"
"Aku suka dioral kalau enak.. Kalau mengoral aku bisa cuma tidak pandai. Kalau kamu?"
"Aku suka dioral. Kalau mengoral, aku mau saja tapi agak sensitif dengan bau.." kataku.
"Oh ya? Aku tidak pernah dikomplain soal bauku kok.." kami terus mengobrol sampai larut malam sampai akhirnya Verne kehabisan pulsa.
*****
Besok sorenya aku jemput Verne dan segera ke hotel untuk check in short time. Verne tampil sexy dengan tank top dan celana jeans. Lipstik tipis, mascara dan bedak tipis membuatnya lebih cantik. Di sepanjang jalan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak berpikir bagaimana nanti aku bisa memuaskannya. Aku merasakan tubuhku tidak fit. Tetapi memikirkan bergumul dengan wanita yang sekarang duduk di sebelahku di mobil, membuatku segar. Asyik.. Sebentar lagi aku bercinta lagi. Sudah lama aku tidak bercinta. Sekitar 2 bulan.
Sampai di kamar hotel aku memesan air mineral dan menyalakan televisi. Verne duduk di tepi ranjang setelah meletakkan tasnya.
"Wah.. Aku nervous, Boy.." katanya.
Aku terkejut. Wanita ini nervous! Haha.. Ada-ada saja. Tapi aku memahaminya. Ini adalah pertama kalinya Verne hendak ML dengan orang yang belum lama dikenalnya. Pasti ada keragu-raguan dan banyak pikiran yang membuatnya nervous. Aku harus berusaha menenangkannya.
Perlahan tanganku meraih pinggangnya yang terbuka. Aku mengusapnya lembut. Verne agak kegelian. Dia memegang tanganku.
"Wah.. Kok bisa nervous ya. Padahal waktu ML pertama kali saja tidak nervous.."
Aku hendak menjawabnya ketika room boy datang membawa minuman yang kupesan. Aku minum sedikit lalu berbaring. Verne masih kaku duduk di pinggir ranjang. Akhirnya kutarik tubuhnya untuk berbaring. Maksudku ingin membuatnya rileks dengan berbaring. Setelah Verne berbaring, aku menghampiri lehernya dan menghembuskan nafasku pelan-pelan. Verne melenguh. Dia membalikkan badannya dan mulai mencium bibirku.
Aku membalasnya dengan hangat. Bibir Verne penuh. Dia mahir sekali melumat bibirku sambil menghisap. Enak, guys! Kami beradu bibir, lidah dan seluruh mulut. Saling melumat, menjilat dan menghisap. Kurasakan nafas Verne mulai memburu. Ciuman bibir kami terlepas. Aku mulai mencari titik erotis di wajahnya. Mulai dahi, pipi, leher kucium. Reaksinya biasa saja. Waktu aku mencapai telinganya, desahannya semakin keras. Telinganya sensitif. Kami bercumbu terus. Aku berkonsentrasi di bibir dan telinganya. Tanganku memegang kepalanya. Tangan Verne bergerak meraba perutku dan naik menuju dadaku. Dia meraba-raba dan memainkan puting dadaku. Geli dan lumayan enak.
Kami berciuman cukup lama. Tanganku bergerak meraih kait bra-nya. Ternyata sulit terbuka! Verne tertawa. Dia kemudian melepas tank top dan bra-nya. Aku menelan ludah melihat payudara 36B-nya. Wow! Putingnya merah menantang sangat menonjol. Baru kali ini aku melihat puting seseksi itu. Aku tidak segera meraih payudaranya. Aku terlebih dahulu menikmati dengan melihatnya. Kuraba bagian tengah dadanya. Turun ke perutnya. Membuat gerakan melingkar membuatnya menggelinjang geli. Naik merayap ke lembah payudaranya. Verne mengira aku akan meraih putingnya. Ternyata dia salah. Aku hanya berputar-putar di payudaranya tanpa memberikan tekanan apapun..
"Uh.. Jahat.." bisik Verne.
Ya, belum saatnya meraih payudaranya. Aku kembali menciumnya. Turun ke leher dan merayap ke dadanya. Hidungku menelurusi payudaranya dan tiba di putingnya. Kemudian kuturunkan kepalaku. Lidahku menjilat melingkar di perut, naik ke payudaranya, berputar-putar seperti pendaki gunung yang berusaha mencapai puncak. Tubuh Verne mulai gelisah. Aku tahu dan mulai menjilat puncak putingnya dengan seluruh lidahku. Penuh..
"Aach.." Verne mengerang.
Aku menjilat dan mulai menghisap putingnya. Tanganku bergerak memijat punggungnya. Kemudian pinggang dan perutnya. Aku berusaha membuat aliran darahnya merata di semua bagian tubuhnya. Verne menggelinjang terus saat kupijat dan kuraba punggungnya. Jariku membuat gerakan sangat halus hingga membuat saraf-sarafnya bereaksi. Darahnya mengalir lebih cepat dan Verne semakin terangsang. Tubuhnya bergetar menahan rangsangan di punggungnya. Aku menahannya dengan tanganku, tak membiarkannya terlepas. Titik erotisnya banyak tersebar di punggung. Karena itu guratan jariku di punggungnya membuat Verne semakin terangsang.
Perlahan aku menurunkan celana dalamnya. Wow.. Vagina yang seksi terpampang di depan wajahku. Persis di mukaku! Vaginanya halus tanpa ada bulu. Verne mencukur bersih vaginanya. Aku menciumnya. Hmm.. Tidak bau. Hanya ada aroma khas vagina yang memang sudah seharusnya ada. Aku menjulurkan lidahku. Menjilatnya sepenuh hati. Semua jadi sasaranku. Labia mayora, labia minora, dan akhirnya aku menyerang klitorisnya. Daging berwarna merah muda di tempat bibir dalam vaginanya bertemu itu kujilat habis-habisan.
"Oh Yess.." desah Verne.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku terus menjilatnya sambil sesekali menghisapnya. Kepalaku tepat berada di antara kedua kakinya. Lama-kelamaan kakinya menjepit kakiku. Jepitan yang mulanya biasa, sampai akhirnya jepitannya kuat sekali.
"Argh.. Oh God.. Ah.. Ah.." desah Verne. Aku makin bersemangat menjilatnya.
"Aku nggak kuat, Boy.. Argh.."
Verne makin kuat mendesah dan mengerang.. Siapa peduli? Aku akan menyiksanya lebih jauh lagi dengan kenikmatan yang dahsyat. Dalam.. Tidak terlupakan. Tubuh Verne menggelinjang makin kuat.
"Ogh.. Boy, aku tak tahan.. Sudah! Sudah!"
Kakinya melepas jepitannya. Tapi aku malah menahan kakinya dan terus menjilatnya. Siksaan nikmat ini harus kulakukan. Verne berteriak makin kuat. Akhirnya dia bangun. Kakinya tak dapat kutahan lagi. Dia bangun dan menerkamku.
"Aku nggak kuat lagi, Boy!" raung Verne.
Tubuhku ditariknya berbaring dan dia menindihku dari atas. Tangannya mencari penisku dan berusaha memasukkannya ke vaginanya.. Astaga! Penisku masih belum sempurna ereksinya. Otomatis penetrasi gagal dilakukan. Sangat sulit masuk ke vagina kalau penis tidak cukup keras. Perlahan, bukannya mengeras, penisku justru semakin loyo! Apa yang kutakutkan terjadi. Fisikku yang sedang kelelahan membuat penisku gagal ereksi.
"Bantu aku, Verne.." kataku shock.
Aku malu sekali. Verne meraih penisku dan meremasnya. Kemudian dia mengoralku. Gagal. Penisku makin tidur. Aku makin shock.
"Sudah, Verne.. Nanti saja.." kataku pelan.
Aku seperti jatuh dari lantai tingkat sepuluh dan jatuh dengan keras ke bumi. Sakit, malu dan sangat terkejut. Ini adalah pertama kalinya aku gagal ereksi.
Bersambung . . . .
"Boy.. Kamu tinggal di kota mana sih?" tanyanya di email.
"Kota ini.. Cuma aku sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnisku" jawabku.
"Wah liburan lebaran ini aku mau ke kotamu."
"Oh ya? Okay nanti kita atur waktu untuk bertemu. Siapa tahu kita bisa kencan.. Oh ya kirim fotomu dong?" balasku di email.
"Sory, gue nggak ada foto.." balas Verne.
"Ah masa.. Pasti ada lah.." bagiku hampir tak mungkin seseorang tak punya foto.
"Ada sih, tapi jelek.. Ntar aja kalau aku ke kotamu aku foto dan kasih ke kamu"
Yah, aku tahu Verne jujur. Dari isi emailnya, aku tahu dia tidak suka basa basi. Karena itu aku okay saja menunggu fotonya.
Hari kedatangan Verne tiba. Malamnya aku meneleponnya.
"Udah nyampe? Kamu tinggal di mana?"
"Udah dari tadi.. Tinggal di sini.." katanya menyebutkan nama suatu daerah.
"Bisa tahu nomor teleponnya? Aku telepon di rumah saja ya?"
Aku ingin tahu apakah dia mau memberikan nomor teleponnya. Sekalian berhematlah. Ternyata Verne mau memberikan nomor teleponnya. Lalu aku meneleponnya. Kami bicara tidak banyak karena aku memang sedang sibuk. Lalu aku membuat janji untuk datang ke rumahnya.
Aku datang beberapa hari kemudian. Di perjalanan aku berdebar-debar memikirkan seperti apa si Verne ini. Setelah sempat salah rumah, aku menemukan rumahnya. Verne manis orangnya. (kalau baca cerita ini jangan senyum sendiri ya, Verne!), tubuhnya seksi dengan tinggi 170 cm/65 kg. Kate Winslet memiliki postur 168 cm/65 kg. Jadi bisa dibayangkan kira-kira tubuh Verne, sama sekali tidak gemuk menurutku. Beratnya mungkin banyak terfokus di payudara dan pinggulnya yang seksi. Belakangan aku baru tahu ukuran bra-nya 36B. Kulitnya kuning seperti orang Chinese kebanyakan. Dengan rambut sebahu, bibir penuh dan tanpa make up, dia kelihatan natural.
Kami bicara cukup lama. Orangnya enak diajak bicara. Banyak bahan yang bisa dia ceritakan. Mulai pekerjaannya, mantan pacarnya, teman-temannya, keluarganya, sampai akhirnya kami membicarakan cerita yang kutulis, respon pembaca dan banyak hal lain. Satu hal yang kusukai darinya adalah keterusterangannya. Meskipun kadang topik sex membuatnya malu, tetapi Verne tetap menyambut setiap bahan pembicaraan kami. Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan aku memutuskan untuk pulang. Dalam hati aku masih bimbang untuk mengajaknya berkencan atau tidak. Akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk dan menyita waktuku.
Kami berdua berjalan menuju gerbang rumahnya. Verne tinggal di rumah neneknya selama di kotaku. Mataku menjelajahi rumah dan sekelilingnya. Banyak orang di rumah seberang. Wah, padahal aku ingin menciumnya. Ketika Verne membukakan kunci gerbang, bahunya yang terbuka putih mulus membuatku ingin memeluk dan mencium tengkuknya. Akan tetapi aku tak jadi melakukannya.
"Aku pulang ya.. Verne? Tunggu besok ya, kalau ada waktu aku akan mengajakmu kencan" kataku. Verne mengangguk.
Aku segera masuk mobilku dan pulang. Sampai di rumah aku menulis SMS untuk Verne.
"Verne.. Menurutmu aku orangnya gimana?"
"Kamu cute, Boy. Tinggi juga tubuhmu. Aku baru kali ini sampai mendongakkan kepalaku waktu bicara dengan cowok.. Soalnya aku tinggi juga.. Kalau aku menurutmu?"
"You're so sweet, girl.. Tadi aku ingin menciummu tapi banyak orang.."
"Wah.. Thanks.. U ingin menciumku? Aku juga lho.. Tapi kukira Boy tidak tertarik padaku tadi.." astaga.. Siapa yang tidak tertarik dengan bibir penuh dan tubuh tinggi seksi itu?
"What a missing moment! Aduh.. Tahu gitu tadi aku akan mengajakmu masuk mobil dan menciummu!" aku jadi menyesal tidak menciumnya tadi. Aku kehilangan kesempatan bagus.
"Iya.. Aku jadi kepikiran missing moment tadi.."
"Oh ya Verne.. Kalau besok aku pasti tidak bisa mengajakmu keluar. Ada janji dengan client. Mungkin besok lusa ya.. Aku ke rumahmu malam."
"Oh.. Besok gak bisa ya? Aku available-nya cuma sampai besok lusa malam. Pagi-pagi aku sudah pulang ke kotaku.."
"Oh gitu? Ya besok lusa aja deh. Gimana kalau kita ke hotel saja?"
"Tak masalah. Tapi tidak bisa menginap lho. Soalnya paginya aku sudah harus pulang.."
Aku mulai menghitung waktu. Kesibukanku yang luar biasa sangat menguras fisikku. Aku tiba-tiba kuatir tidak bisa memuaskan Verne. Bagaimana jika nanti aku lemah? Aku pun menulis SMS lagi ke Verne.
"Tapi kalau aku capek, kita tidak usah ke hotel ya? Daripada belum-belum aku sudah ejakulasi.. Kan kasihan kamunya kalau tidak bisa orgasme.."
"Aku tidak mengejar orgasme, Boy. Bagaimana kalau aku bilang, sangat sulit membuatku orgasme? Aku suka aktifitasnya. Cium, peluk, have sex, making love.. Aku tidak mengejar orgasmenya.."
Aku jadi bingung sendiri. Aku tidak mungkin melepas pekerjaanku, tetapi aku juga tidak ingin melepas kesempatan bercinta dengan salah satu pembaca Rumah Seks ini yang sudah jauh-jauh ke datang kotaku. Aku masih berpikir ketika SMS dari Verne datang lagi.
"Boy.. Ini one nite stand pertamaku. Aku ke kotamu belum tentu 1 tahun sekali. Mungkin kita tidak akan punya kesempatan ke dua kalinya.."
"Aku cuma kuatir nanti akan mengecewakanmu.." balasku.
"Boy, bukankah seharusnya yang memutuskan kecewa atau tidak itu aku? Jangan seperti itu.. karena justru membuatku kepikiran. Make no sense banget deh.."
Ya, Verne benar. Kesempatan di depan mata yang mungkin tidak akan terulang lagi tidak boleh disia-siakan.
"Oke deh.. Besok jam 5 sore aku jemput. Kita ke hotel short time saja. Oh ya Verne.. Pasanganmu biasanya pake kondom tidak? Aku terbiasa pake kondom. Demi menjaga kesehatan dan mencegah kehamilan" tulisku lagi di SMS.
"Boy, aku minum pil anti hamil kok. Aku juga bersih, bebas penyakit."
"Aku juga sehat, Verne.. Soalnya aku baru 1x tanpa kondom, dengan Cie Yeni itu.." kataku.
"Boy, ini one nite stand pertamaku. Selama ini aku having sex dengan orang yang sudah kukenal lama. Jadi, kalau kamu mau pake kondom, itu better for me."
Ya, pikiran Verne sama denganku. Kami belum saling kenal sebelumnya. Resiko terkena penyakit cukup besar.
"Wah.. Thanks Verne. Tadi aku kuatir menyinggung perasaanmu. Kalau gitu aku akan pakai kondom saja.. Oh ya, u aktif atau pasif waktu ML?"
"Aku tergantung pasanganku. Bisa aktif bisa pasif. Kamu suka cewek yang seperti apa Boy?"
"Aku suka cewek aktif. Boleh agresif boleh tidak. Tetapi yang penting aktif. Kalau oral atau dioral kamu suka?"
"Aku suka dioral kalau enak.. Kalau mengoral aku bisa cuma tidak pandai. Kalau kamu?"
"Aku suka dioral. Kalau mengoral, aku mau saja tapi agak sensitif dengan bau.." kataku.
"Oh ya? Aku tidak pernah dikomplain soal bauku kok.." kami terus mengobrol sampai larut malam sampai akhirnya Verne kehabisan pulsa.
*****
Besok sorenya aku jemput Verne dan segera ke hotel untuk check in short time. Verne tampil sexy dengan tank top dan celana jeans. Lipstik tipis, mascara dan bedak tipis membuatnya lebih cantik. Di sepanjang jalan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak berpikir bagaimana nanti aku bisa memuaskannya. Aku merasakan tubuhku tidak fit. Tetapi memikirkan bergumul dengan wanita yang sekarang duduk di sebelahku di mobil, membuatku segar. Asyik.. Sebentar lagi aku bercinta lagi. Sudah lama aku tidak bercinta. Sekitar 2 bulan.
Sampai di kamar hotel aku memesan air mineral dan menyalakan televisi. Verne duduk di tepi ranjang setelah meletakkan tasnya.
"Wah.. Aku nervous, Boy.." katanya.
Aku terkejut. Wanita ini nervous! Haha.. Ada-ada saja. Tapi aku memahaminya. Ini adalah pertama kalinya Verne hendak ML dengan orang yang belum lama dikenalnya. Pasti ada keragu-raguan dan banyak pikiran yang membuatnya nervous. Aku harus berusaha menenangkannya.
Perlahan tanganku meraih pinggangnya yang terbuka. Aku mengusapnya lembut. Verne agak kegelian. Dia memegang tanganku.
"Wah.. Kok bisa nervous ya. Padahal waktu ML pertama kali saja tidak nervous.."
Aku hendak menjawabnya ketika room boy datang membawa minuman yang kupesan. Aku minum sedikit lalu berbaring. Verne masih kaku duduk di pinggir ranjang. Akhirnya kutarik tubuhnya untuk berbaring. Maksudku ingin membuatnya rileks dengan berbaring. Setelah Verne berbaring, aku menghampiri lehernya dan menghembuskan nafasku pelan-pelan. Verne melenguh. Dia membalikkan badannya dan mulai mencium bibirku.
Aku membalasnya dengan hangat. Bibir Verne penuh. Dia mahir sekali melumat bibirku sambil menghisap. Enak, guys! Kami beradu bibir, lidah dan seluruh mulut. Saling melumat, menjilat dan menghisap. Kurasakan nafas Verne mulai memburu. Ciuman bibir kami terlepas. Aku mulai mencari titik erotis di wajahnya. Mulai dahi, pipi, leher kucium. Reaksinya biasa saja. Waktu aku mencapai telinganya, desahannya semakin keras. Telinganya sensitif. Kami bercumbu terus. Aku berkonsentrasi di bibir dan telinganya. Tanganku memegang kepalanya. Tangan Verne bergerak meraba perutku dan naik menuju dadaku. Dia meraba-raba dan memainkan puting dadaku. Geli dan lumayan enak.
Kami berciuman cukup lama. Tanganku bergerak meraih kait bra-nya. Ternyata sulit terbuka! Verne tertawa. Dia kemudian melepas tank top dan bra-nya. Aku menelan ludah melihat payudara 36B-nya. Wow! Putingnya merah menantang sangat menonjol. Baru kali ini aku melihat puting seseksi itu. Aku tidak segera meraih payudaranya. Aku terlebih dahulu menikmati dengan melihatnya. Kuraba bagian tengah dadanya. Turun ke perutnya. Membuat gerakan melingkar membuatnya menggelinjang geli. Naik merayap ke lembah payudaranya. Verne mengira aku akan meraih putingnya. Ternyata dia salah. Aku hanya berputar-putar di payudaranya tanpa memberikan tekanan apapun..
"Uh.. Jahat.." bisik Verne.
Ya, belum saatnya meraih payudaranya. Aku kembali menciumnya. Turun ke leher dan merayap ke dadanya. Hidungku menelurusi payudaranya dan tiba di putingnya. Kemudian kuturunkan kepalaku. Lidahku menjilat melingkar di perut, naik ke payudaranya, berputar-putar seperti pendaki gunung yang berusaha mencapai puncak. Tubuh Verne mulai gelisah. Aku tahu dan mulai menjilat puncak putingnya dengan seluruh lidahku. Penuh..
"Aach.." Verne mengerang.
Aku menjilat dan mulai menghisap putingnya. Tanganku bergerak memijat punggungnya. Kemudian pinggang dan perutnya. Aku berusaha membuat aliran darahnya merata di semua bagian tubuhnya. Verne menggelinjang terus saat kupijat dan kuraba punggungnya. Jariku membuat gerakan sangat halus hingga membuat saraf-sarafnya bereaksi. Darahnya mengalir lebih cepat dan Verne semakin terangsang. Tubuhnya bergetar menahan rangsangan di punggungnya. Aku menahannya dengan tanganku, tak membiarkannya terlepas. Titik erotisnya banyak tersebar di punggung. Karena itu guratan jariku di punggungnya membuat Verne semakin terangsang.
Perlahan aku menurunkan celana dalamnya. Wow.. Vagina yang seksi terpampang di depan wajahku. Persis di mukaku! Vaginanya halus tanpa ada bulu. Verne mencukur bersih vaginanya. Aku menciumnya. Hmm.. Tidak bau. Hanya ada aroma khas vagina yang memang sudah seharusnya ada. Aku menjulurkan lidahku. Menjilatnya sepenuh hati. Semua jadi sasaranku. Labia mayora, labia minora, dan akhirnya aku menyerang klitorisnya. Daging berwarna merah muda di tempat bibir dalam vaginanya bertemu itu kujilat habis-habisan.
"Oh Yess.." desah Verne.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku terus menjilatnya sambil sesekali menghisapnya. Kepalaku tepat berada di antara kedua kakinya. Lama-kelamaan kakinya menjepit kakiku. Jepitan yang mulanya biasa, sampai akhirnya jepitannya kuat sekali.
"Argh.. Oh God.. Ah.. Ah.." desah Verne. Aku makin bersemangat menjilatnya.
"Aku nggak kuat, Boy.. Argh.."
Verne makin kuat mendesah dan mengerang.. Siapa peduli? Aku akan menyiksanya lebih jauh lagi dengan kenikmatan yang dahsyat. Dalam.. Tidak terlupakan. Tubuh Verne menggelinjang makin kuat.
"Ogh.. Boy, aku tak tahan.. Sudah! Sudah!"
Kakinya melepas jepitannya. Tapi aku malah menahan kakinya dan terus menjilatnya. Siksaan nikmat ini harus kulakukan. Verne berteriak makin kuat. Akhirnya dia bangun. Kakinya tak dapat kutahan lagi. Dia bangun dan menerkamku.
"Aku nggak kuat lagi, Boy!" raung Verne.
Tubuhku ditariknya berbaring dan dia menindihku dari atas. Tangannya mencari penisku dan berusaha memasukkannya ke vaginanya.. Astaga! Penisku masih belum sempurna ereksinya. Otomatis penetrasi gagal dilakukan. Sangat sulit masuk ke vagina kalau penis tidak cukup keras. Perlahan, bukannya mengeras, penisku justru semakin loyo! Apa yang kutakutkan terjadi. Fisikku yang sedang kelelahan membuat penisku gagal ereksi.
"Bantu aku, Verne.." kataku shock.
Aku malu sekali. Verne meraih penisku dan meremasnya. Kemudian dia mengoralku. Gagal. Penisku makin tidur. Aku makin shock.
"Sudah, Verne.. Nanti saja.." kataku pelan.
Aku seperti jatuh dari lantai tingkat sepuluh dan jatuh dengan keras ke bumi. Sakit, malu dan sangat terkejut. Ini adalah pertama kalinya aku gagal ereksi.
Bersambung . . . .
Panasnya permainan ranjang Iza
Pembaca Rumah Seks yang budiman, sebenarnya lanjutan cerita perjalananku ke Malaysia (lanjutan cerita "Love in Malaysia" dan "Panasnya Gairah Cinta Michiko" seperti yang aku tulis sebelumnya) belum memungkinkan bagiku untuk melanjutkannya, mengingat kesibukan aku yang begitu padat akhir-akhir ini. Namun disebabkan banyak permintaan melalui email dan bahkan disampaikan secara langsung setelah berkenalan langsung dengan salah seorang pembaca, akhirnya aku coba juga mengangsur cerita itu sedikit-demi sedikit, karena kebetulan aku selalu membawa laptop kemanapun pergi.
*****
Waktu itu Senin sore tanggal 26 Januari 2004 sekitar pukul 15.30 waktu Malaysia setelah mengunjungi Putrajaya tempat PM Malaysia berkantor di negara bagian Selangor, rombongan kami check in di PNB Darby Park yang terletak di jalan Binjau No.10 Kuala Lumpur dan lokasinya berdekatan dengan Tabung Haji Malaysia dan Menara Kembar (Twin Tower) Petronas yang cukup terkenal di dunia. Dari hotel tempat aku meningap itu, bila hendak ke menara kembar itu dengan jalan kaki bisa ditempuh dalam waktu 10 menit.
Aku mendapat kunci kamar dengan nomor 2805, yang berarti berada di lantai 28 dan masih menempati kamar executive suite yang memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu dapur. Sehingga, tiap kami pasti ada satu kamar yang kosong dan tak terisi. Aku berfikir, kenapa pihak penyelenggara Mega FAM Malaysia ini tidak menempatkan kami berdua dalam satu kamar sehingga tidak ada kamar yang kosong.
Sekitar pukul 16.15, bell di kamarku berdering. Ternyata dari pemandu kami yang orang Pakistan untuk mengingatkan agar 15 menit lagi berkumpul di lobby hotel untuk bersiap-siap pergi pesiar ke KLCC yang terletak di bawah menara kembar Petronas, ke Menara Kuala Lumpur dan terakhir ke Genting Highland, dimana di lokasi dengan ketinggian sekitar 5.350 kaki itu juga terdapat kasino nomor dua terbesar di Asia.
Namun aku menyampaikan kepada pemandu itu dan juga kepada pimpinan rombongan, bahwa aku ingin istirahat saja di kamar, sekaligus menyatakan bahwa aku juga hendak ke China Town setelah magrib untuk membeli ole-ole buat teman-teman di kantor sepulang dari Malaysia nantinya. Akhirnya mereka mengerti dan meninggalkan aku sendiri di kamar.
Sepeninggalan teman-teman yang telah pergi shopping ke KLCC, untuk menghilangkan jenuh aku lalu menghidupkan VCD player yang ada di ruang tamu dengan memutar kepingan VCD "Tourism Malaysia" yang diberikan pihak penyelenggara seminar di The Puteri Pan Pasific Hotel di Johor Baru, beberapa hari lalu, sambil tidur-tiduran di atas sofa yang cukup lebar dan empuk. Mungkin karena capek setelah seharian mutar-mutar di Putrajaya, tak terasa aku tertidur dan baru terbangun ketika bell di kamarku berbunyi. Aku melihat jam, ternyata sudah pukul 18.45. Siapa pula yang datang? Teman-teman kembali nanti paling juga subuh karena memang ada diantara mereka yang ingin berjudi di Genting.
Dengan bermalas-malasan dan setelah merapikan baju kaos yang aku pakai, aku buka juga pintu kamarku. Sesaat aku terkaget dan seperti tidak percaya melihat orang yang berdiri di hadapanku.
"Iza..?" hanya itu yang bisa aku ucapkan sambil mengucek-ucek kelopak mataku.
"Kamu jahat. Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu datang ke Malaysia? Bahkan ketika kamu sudah berada di Kuala Lumpur pun, kamu masih tetap tidak meneleponku," cewek itu berceloteh terus sambil mendorong tubuhku ke dalam dengan tangan memukul dadaku.
"Aku bukannya sengaja untuk tidak meneleponmu. Tapi sungguh, nomor telepon kamu hilang ketika aku mengganti kartu halloku dengan navigator 64kb yang dikeluarkan Telkomsel. Aku ganti kartu, karena aku ingin mengaktifkan mobile banking, sementara memori untuk menyimpang nomor telepon di kartu baru itu tidak cukup untuk 250 nama seperti pada kartu lama. Aku baru tahu nomor kamu tidak ada di kartuku, setelah mau menelpon kamu ketika hendak berangkat ke Malaysia seminggu lalu," ujarku menerangkan, sambil membelai rambutnya yang direbonding.
Oh ya, Iza adalah pacarku orang Malaysia dan kini berusia sekitar 23 tahun yang bekerja di salah satu perusahaan swasta cukup besar di negara jiran itu, yang ku kenal ketika dalam perjalanan dengan pesawat Silk Air menuju kota "P" dari Singapore tahun 2000 lalu. Dan selama di kota "P" aku selalu menemaninya kemana pergi, dan bahkan sempat beberapa kali tidur bersama. Iza yang bertubuh seksi dan sintal dengan tinggi sekitar 168 cm berkulit putih dan mirip artis Eddies Adellia. Pinggangnya ramping, pinggul padat berisi dan payudara yang montok serta padat dengan ukuran bra 36B. Dan setiap aku ke Malaysia atau dia ke kotaku, pastilah tidak pernah terlewatkan bagi kami berdua untuk bercinta.
Ketika aku tanyakan dari mana dia tahu kalau aku sedang di Kuala Lumpur dan menginap di PNB Darby Park, ia menyatakan tahu dari teman-temanku. Waktu dia sedang duduk-duduk di salah satu kafe di KLCC sepulang dari kerja, dan kebetulan melihat teman-temanku yang pakai kokarde "Mega FAM" bertuliskan dari kota "P", dan menguping teman-temanku bercerita, dan ia mendengar namaku ikut disebut-sebut. Waktu itu, feelingnya langsung mengatakan bahwa nama Sandy yang disebut-sebut itu pastilah aku, sehingga ia memberanikan diri bertanya pada salah seorang temanku, dimana aku berada, setelah sebelumnya ia menyatakan bahwa ia mengenal aku. Akhirnya teman-temanku mengatakan bahwa aku sedang istirahat di hotel, dan ketika ia datang ke hotel tempat aku menginap, ia tanyakan namaku dan receptions hotel lalu memberi nomor kamarku.
"Syukurlah kamu bisa menemukan aku. Kamu tahu kenapa aku tidak mau gabung dengan teman-teman ke Genting? Itu karena aku punya rencana untuk datang ke rumahmu malam ini," ujarku menjelaskan.
"Iya ke..," rajuknya dalam logat Malaysia.
"Sure..!" jawabku pasti, sambil merengkuh pundaknya sehingga ia berada dalam pelukanku.
"Aku sungguh merindukanmu, Iza," rayuku.
"Aku juga, makanya aku datang ke tempatmu," balasnya.
"Kamu mau menemaniku disini malam ini kan?" tanyaku.
Iza menganggukkan kepalanya. Namun ia menyatakan bahwa ia harus menelepon temannya satu apartemen bersebelahan kamar untuk memberitahu, untuk memberitahu jika ia tidak pulang malam ini.
Karena tidak tahan lagi menahan rasa rindu yang memuncak serta keinginan untuk mereguk kenikmatan tubuhnya yang sensual dan sudah hampir satu tahun tidak aku cicipi itu. Kulihat Iza yang baru saja menelepon temannya itu sedang asyik menikmati siaran TV3 sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa yang berukuran cukup panjang dan lebar itu. Aku mendekat dan langsung mengecup keningnya. Ia menengadah, dan ciumanku terus merambat turun ke bibirnya yang sensual.
"Ah..," desahnya tertahan.
Ciumanku terus menjalar ke belakang telinganya dan terus ke lehernya yang jenjang. Sementara tanganku mulai menjalar mencari dua bukit kenyal yang montok dan selalu menantang itu. Kulihat ia mulai menggelinjang-gelinjang sambil merasakan nikmat permainan yang aku berikan.
Perlahan-lahan tapi pasti, aku mulai membuka baju kaos yang dipakainya, dan melanjutkan dengan membuka celana jeans ketat yang melekat di tubuhnya. Sehingga terlihat ia hanya menggunakan bra warna hitam yang serasi dengan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirku, tetap bermain di bibirnya yang ranum. Kemudian tangan kananku mulai mencari pengait bra yang dipakainya dan melepasnya.
Bibirku langsung beraksi mengulum puting susunya yang sudah mulai mengeras. Sekali-sekali aku gigit puting susunya yang berwarna coklat itu, sehingga ia terdengar mengerang. Sementara tangan kananku, terus merambat turun dan mulai memelorotkan celana dalamnya. Sesaat tanganku berhenti di gundukan daging di sela pangkal pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat dan tertata rapi.
"Honey, please..!" rengeknya sambil berusaha membuka kaos singlet yang kupakai.
Kemudian dengan rakusnya iapun mulai menjilati dan menghisap puting susuku yang ditumbuhi bulu-bulu. Aku tergelinjang, dan seketika nafsuku semakin memuncak. Ia semakin bergelora dan terus menjilati tubuhku hingga ke bawah. Karena terhalang celana pendek yang kupakai, iapun lalu memelorotkannya, sehingga aku menjadi telanjang bulat seperti dirinya. Penisku terlihat mengacung dengan gagahnya ke atas.
"Oh..," desahnya sambil menjilati seluruh batang penisku.
Tak cukup sampai disitu, ia lalu berusaha mengulum seluruh batang penisku. Namun karena tersekat di kerongkongannya, hanya sebagian saja yang bisa dikulum dan diisapnya, sehingga membuat aku kegelian dan semakin terangsang. Kemudian aku coba mengambil alih inisiatif dengan menarik tubuhnya ke atas serta menyandarkannya di sofa, dan kemudian aku mulai lagi menjilati dan menghisap puting payudaranya. Hisapanku lalu pindah ke bibir, ke telinga dan leher, sehingga membuatnya makin terangsang dengan hebat.
Ciuman lalu aku teruskan ke bawah, dan bermain-main sebentar di sekitar pusarnya. Kemudian bibirku terus merambat ke bawah, dan mendapatkan vaginanya yang berbulu lebat itu sudah mulai dibasahi cairan kental. Setelah kakinya aku angka dan bulu-bulu yang menutupi lubang vaginanya aku sibakkan, aku mulai menjilat clitorisnya dengan lidahku. Iza semakin menggelinjang menahan nikmat, sehingga setelah hampir lima menit lidahku bermain di lubang vaginanya, akhirnya aku lihat Iza berkelenjotan dan mengangkat tinggi pinggulnya dan terdengar teriakan tertahan.
"Oh, honey. Aku tak tahan lagi. Aku.. mau.. keluar..!' teriaknya.
Tak lama kemudian aku melihat cukup banyak cairan kental menyembur dari lubang vaginanya. Sementara aku lalu menghentikan jilatan untuk memberikannya kesempatan menikmati orgasmenya yang pertama itu. Kemudian, dengan rakus aku jilati semua cairan yang keluar dari vaginanya itu.
"Ah, honey. Apa yang aku impikan selama satu tahun ini untuk bercinta kembali denganmu, akhirnya menjadi kenyataan," katanya.
"Aku juga sayang, si kecil ini sudah lama berontak untuk bisa bersemayam di goa milikmu yang hangat itu," balasku sambil mencium mesra bibirnya.
Ciumanku itu dibalas Iza dengan hangat. Kembali permainan lidah yang luar biasa terjadi. Sementara tangan kananku sibuk meremas dengan lembut dua bukit kembarnya yang sangat menantang itu. Lalu perlahan dan tanpa melepaskan ciuman bibir, aku bopong Iza ke dalam kamar dengan tetap membiarkan kaca jendela tidak ditutup gorden, sehingga menambah nuansa tersendiri dalam permainan seks kami.
Baru saja Iza aku rebahkan di ranjang, tiba-tiba ia bangkit dan mendorongku hingga tertelentang. Ia terlihat ingin mengambil inisiatif menyerang dengan menciumi seluruh bagian tubuhku dengan ganasnya. Akibatnya, penis aku yang sejak tadi sudah mengeras itu, sudah tidak sabaran lagi untuk bisa menyeruak ke dalam lubang kenikmatan Iza. Pada saat Iza asyik melumat bibirku, secara diam-diam "si kecil" aku arahkan tepat di lubang vaginanya.
"Ah, terus sayang..," desahnya.
Sementara aku mengangkat pinggul agar penisku bisa masuk, Iza juga ikut membantu dengan menekan pinggulnya. Secara perlahan-lahan, penisku mulai dapat memasuki liang vagina Iza yang masih terasa sempit karena selalu dirawat dengan baik. Bless..! Semua batang penisku amblas masuk hingga dapat kurasakan menyentuh dasar vaginanya.
"Oh, terus honey. Enaakk..!" desahnya.
Karena aku merasakan goyangnya mulai mengendur karena lelah berada di atas, akhirnya aku mengambil inisiatif membalikkan tubuhnya hingga telentang, dengan penisku tetap berada di dalam vaginanya. Secara perlahan, aku mulai menggoyang pinggul untuk memaju mundurkan penisku di vaginanya, sementara lidahku tetap saling kait mengait dengan lidahnya. Kemudian lidahku merambat turun ke dadanya dan menghisap puting susunya yang mengeras, sementara aku tetap mempertahankan intensitas goyangan di pinggulku. Akibatnya, Iza terlihat sudah tidak bisa menahan seranganku, karena aku rasakan pinggulnya mulai diangkat dan kakinya mengejang.
"Oh, honey. Aku tak tahan lagi dan mau.. ke.. luar..'" erangnya.
"Tahan dulu sayang, kita keluarkan sama-sama," ujarku tertahan.
Aku akhirnya aku tidak bisa menahan desakan di pangkal penisku yang terasa menghentak-hentak hendak menghantam vagina Iza. Dan dalam hitungan detik, akhirnya aku muntahkan seluruh sperma yang ada di penisku, sementara Iza juga kurasakan mengeluarkan lendir di vaginanya yang terasa hangat oleh batang penisku.
"Oh, aku benar-benar puas Sandy. Aku ingin kamu masih di KL agak beberapa hari lagi," ujarnya sambil mengecup bibirku mesra.
"Bagaimana ya, tiketku tak bisa diundur karena sudah diprogram oleh penyelenggara Mega FAM. Aku harus pulang ke Indonesia pagi besok," jawabku hati-hati.
"Pokoknya serahkan saja tiket itu padaku, aku yang akan mengaturnya. Kalaupun tiket pesawatmu tidak bisa di undur, biarkan saja, nanti aku ganti dengan tiket baru untuk kembali ke Indonesia hari Kamis tanggal 29 Januari," katanya sambil mengelus dadaku yang sedikit berbulu. Aku menyatakan setuju, sehingga kulihat ia tersenyum karena merasa senang.
Dan menjelang pagi, kami sempat melakukan "pertarungan" sengit itu hingga empat kali, sehingga aku lihat Iza benar-benar terpuaskan oleh permainanku yang katanya sangat dahsyat itu. Ia juga berjanji untuk minta izin kepada atasannya selama 3 hari untuk menemaniku selama berada di Kuala Lumpur, sekaligus untuk melampiaskan nafsu syahwatnya yang juga sangat dahsyat itu.
Iza kembali ke apartemennya sekitar jam 04.30 untuk bersiap-siap pergi kerja, dan sekitar pukul 05.30 aku dibangunkan teman-teman untuk bersiap-siap menuju KLIA untuk seterusnya kembali ke kotaku. Namun kepada teman-teman aku sampaikan, bahwa aku masih akan tinggal di Kuala Lumpur hingga tanggal 29 Januari, karena ada sedikit urusan. Tentang tiket pesawatku yang tidak bisa diundur keberangkatannya, aku katakan sudah ada yang mengaturnya, sehingga teman-temanku dapat memahaminya.
*****
Salam manis untuk Marwah dan juga Sella, semoga puas membaca kisah cintaku dengan cewek Malaysia. Pesanku, "don't wait until tomorrow, what can you do to do".
Tamat
*****
Waktu itu Senin sore tanggal 26 Januari 2004 sekitar pukul 15.30 waktu Malaysia setelah mengunjungi Putrajaya tempat PM Malaysia berkantor di negara bagian Selangor, rombongan kami check in di PNB Darby Park yang terletak di jalan Binjau No.10 Kuala Lumpur dan lokasinya berdekatan dengan Tabung Haji Malaysia dan Menara Kembar (Twin Tower) Petronas yang cukup terkenal di dunia. Dari hotel tempat aku meningap itu, bila hendak ke menara kembar itu dengan jalan kaki bisa ditempuh dalam waktu 10 menit.
Aku mendapat kunci kamar dengan nomor 2805, yang berarti berada di lantai 28 dan masih menempati kamar executive suite yang memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu dapur. Sehingga, tiap kami pasti ada satu kamar yang kosong dan tak terisi. Aku berfikir, kenapa pihak penyelenggara Mega FAM Malaysia ini tidak menempatkan kami berdua dalam satu kamar sehingga tidak ada kamar yang kosong.
Sekitar pukul 16.15, bell di kamarku berdering. Ternyata dari pemandu kami yang orang Pakistan untuk mengingatkan agar 15 menit lagi berkumpul di lobby hotel untuk bersiap-siap pergi pesiar ke KLCC yang terletak di bawah menara kembar Petronas, ke Menara Kuala Lumpur dan terakhir ke Genting Highland, dimana di lokasi dengan ketinggian sekitar 5.350 kaki itu juga terdapat kasino nomor dua terbesar di Asia.
Namun aku menyampaikan kepada pemandu itu dan juga kepada pimpinan rombongan, bahwa aku ingin istirahat saja di kamar, sekaligus menyatakan bahwa aku juga hendak ke China Town setelah magrib untuk membeli ole-ole buat teman-teman di kantor sepulang dari Malaysia nantinya. Akhirnya mereka mengerti dan meninggalkan aku sendiri di kamar.
Sepeninggalan teman-teman yang telah pergi shopping ke KLCC, untuk menghilangkan jenuh aku lalu menghidupkan VCD player yang ada di ruang tamu dengan memutar kepingan VCD "Tourism Malaysia" yang diberikan pihak penyelenggara seminar di The Puteri Pan Pasific Hotel di Johor Baru, beberapa hari lalu, sambil tidur-tiduran di atas sofa yang cukup lebar dan empuk. Mungkin karena capek setelah seharian mutar-mutar di Putrajaya, tak terasa aku tertidur dan baru terbangun ketika bell di kamarku berbunyi. Aku melihat jam, ternyata sudah pukul 18.45. Siapa pula yang datang? Teman-teman kembali nanti paling juga subuh karena memang ada diantara mereka yang ingin berjudi di Genting.
Dengan bermalas-malasan dan setelah merapikan baju kaos yang aku pakai, aku buka juga pintu kamarku. Sesaat aku terkaget dan seperti tidak percaya melihat orang yang berdiri di hadapanku.
"Iza..?" hanya itu yang bisa aku ucapkan sambil mengucek-ucek kelopak mataku.
"Kamu jahat. Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu datang ke Malaysia? Bahkan ketika kamu sudah berada di Kuala Lumpur pun, kamu masih tetap tidak meneleponku," cewek itu berceloteh terus sambil mendorong tubuhku ke dalam dengan tangan memukul dadaku.
"Aku bukannya sengaja untuk tidak meneleponmu. Tapi sungguh, nomor telepon kamu hilang ketika aku mengganti kartu halloku dengan navigator 64kb yang dikeluarkan Telkomsel. Aku ganti kartu, karena aku ingin mengaktifkan mobile banking, sementara memori untuk menyimpang nomor telepon di kartu baru itu tidak cukup untuk 250 nama seperti pada kartu lama. Aku baru tahu nomor kamu tidak ada di kartuku, setelah mau menelpon kamu ketika hendak berangkat ke Malaysia seminggu lalu," ujarku menerangkan, sambil membelai rambutnya yang direbonding.
Oh ya, Iza adalah pacarku orang Malaysia dan kini berusia sekitar 23 tahun yang bekerja di salah satu perusahaan swasta cukup besar di negara jiran itu, yang ku kenal ketika dalam perjalanan dengan pesawat Silk Air menuju kota "P" dari Singapore tahun 2000 lalu. Dan selama di kota "P" aku selalu menemaninya kemana pergi, dan bahkan sempat beberapa kali tidur bersama. Iza yang bertubuh seksi dan sintal dengan tinggi sekitar 168 cm berkulit putih dan mirip artis Eddies Adellia. Pinggangnya ramping, pinggul padat berisi dan payudara yang montok serta padat dengan ukuran bra 36B. Dan setiap aku ke Malaysia atau dia ke kotaku, pastilah tidak pernah terlewatkan bagi kami berdua untuk bercinta.
Ketika aku tanyakan dari mana dia tahu kalau aku sedang di Kuala Lumpur dan menginap di PNB Darby Park, ia menyatakan tahu dari teman-temanku. Waktu dia sedang duduk-duduk di salah satu kafe di KLCC sepulang dari kerja, dan kebetulan melihat teman-temanku yang pakai kokarde "Mega FAM" bertuliskan dari kota "P", dan menguping teman-temanku bercerita, dan ia mendengar namaku ikut disebut-sebut. Waktu itu, feelingnya langsung mengatakan bahwa nama Sandy yang disebut-sebut itu pastilah aku, sehingga ia memberanikan diri bertanya pada salah seorang temanku, dimana aku berada, setelah sebelumnya ia menyatakan bahwa ia mengenal aku. Akhirnya teman-temanku mengatakan bahwa aku sedang istirahat di hotel, dan ketika ia datang ke hotel tempat aku menginap, ia tanyakan namaku dan receptions hotel lalu memberi nomor kamarku.
"Syukurlah kamu bisa menemukan aku. Kamu tahu kenapa aku tidak mau gabung dengan teman-teman ke Genting? Itu karena aku punya rencana untuk datang ke rumahmu malam ini," ujarku menjelaskan.
"Iya ke..," rajuknya dalam logat Malaysia.
"Sure..!" jawabku pasti, sambil merengkuh pundaknya sehingga ia berada dalam pelukanku.
"Aku sungguh merindukanmu, Iza," rayuku.
"Aku juga, makanya aku datang ke tempatmu," balasnya.
"Kamu mau menemaniku disini malam ini kan?" tanyaku.
Iza menganggukkan kepalanya. Namun ia menyatakan bahwa ia harus menelepon temannya satu apartemen bersebelahan kamar untuk memberitahu, untuk memberitahu jika ia tidak pulang malam ini.
Karena tidak tahan lagi menahan rasa rindu yang memuncak serta keinginan untuk mereguk kenikmatan tubuhnya yang sensual dan sudah hampir satu tahun tidak aku cicipi itu. Kulihat Iza yang baru saja menelepon temannya itu sedang asyik menikmati siaran TV3 sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa yang berukuran cukup panjang dan lebar itu. Aku mendekat dan langsung mengecup keningnya. Ia menengadah, dan ciumanku terus merambat turun ke bibirnya yang sensual.
"Ah..," desahnya tertahan.
Ciumanku terus menjalar ke belakang telinganya dan terus ke lehernya yang jenjang. Sementara tanganku mulai menjalar mencari dua bukit kenyal yang montok dan selalu menantang itu. Kulihat ia mulai menggelinjang-gelinjang sambil merasakan nikmat permainan yang aku berikan.
Perlahan-lahan tapi pasti, aku mulai membuka baju kaos yang dipakainya, dan melanjutkan dengan membuka celana jeans ketat yang melekat di tubuhnya. Sehingga terlihat ia hanya menggunakan bra warna hitam yang serasi dengan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirku, tetap bermain di bibirnya yang ranum. Kemudian tangan kananku mulai mencari pengait bra yang dipakainya dan melepasnya.
Bibirku langsung beraksi mengulum puting susunya yang sudah mulai mengeras. Sekali-sekali aku gigit puting susunya yang berwarna coklat itu, sehingga ia terdengar mengerang. Sementara tangan kananku, terus merambat turun dan mulai memelorotkan celana dalamnya. Sesaat tanganku berhenti di gundukan daging di sela pangkal pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat dan tertata rapi.
"Honey, please..!" rengeknya sambil berusaha membuka kaos singlet yang kupakai.
Kemudian dengan rakusnya iapun mulai menjilati dan menghisap puting susuku yang ditumbuhi bulu-bulu. Aku tergelinjang, dan seketika nafsuku semakin memuncak. Ia semakin bergelora dan terus menjilati tubuhku hingga ke bawah. Karena terhalang celana pendek yang kupakai, iapun lalu memelorotkannya, sehingga aku menjadi telanjang bulat seperti dirinya. Penisku terlihat mengacung dengan gagahnya ke atas.
"Oh..," desahnya sambil menjilati seluruh batang penisku.
Tak cukup sampai disitu, ia lalu berusaha mengulum seluruh batang penisku. Namun karena tersekat di kerongkongannya, hanya sebagian saja yang bisa dikulum dan diisapnya, sehingga membuat aku kegelian dan semakin terangsang. Kemudian aku coba mengambil alih inisiatif dengan menarik tubuhnya ke atas serta menyandarkannya di sofa, dan kemudian aku mulai lagi menjilati dan menghisap puting payudaranya. Hisapanku lalu pindah ke bibir, ke telinga dan leher, sehingga membuatnya makin terangsang dengan hebat.
Ciuman lalu aku teruskan ke bawah, dan bermain-main sebentar di sekitar pusarnya. Kemudian bibirku terus merambat ke bawah, dan mendapatkan vaginanya yang berbulu lebat itu sudah mulai dibasahi cairan kental. Setelah kakinya aku angka dan bulu-bulu yang menutupi lubang vaginanya aku sibakkan, aku mulai menjilat clitorisnya dengan lidahku. Iza semakin menggelinjang menahan nikmat, sehingga setelah hampir lima menit lidahku bermain di lubang vaginanya, akhirnya aku lihat Iza berkelenjotan dan mengangkat tinggi pinggulnya dan terdengar teriakan tertahan.
"Oh, honey. Aku tak tahan lagi. Aku.. mau.. keluar..!' teriaknya.
Tak lama kemudian aku melihat cukup banyak cairan kental menyembur dari lubang vaginanya. Sementara aku lalu menghentikan jilatan untuk memberikannya kesempatan menikmati orgasmenya yang pertama itu. Kemudian, dengan rakus aku jilati semua cairan yang keluar dari vaginanya itu.
"Ah, honey. Apa yang aku impikan selama satu tahun ini untuk bercinta kembali denganmu, akhirnya menjadi kenyataan," katanya.
"Aku juga sayang, si kecil ini sudah lama berontak untuk bisa bersemayam di goa milikmu yang hangat itu," balasku sambil mencium mesra bibirnya.
Ciumanku itu dibalas Iza dengan hangat. Kembali permainan lidah yang luar biasa terjadi. Sementara tangan kananku sibuk meremas dengan lembut dua bukit kembarnya yang sangat menantang itu. Lalu perlahan dan tanpa melepaskan ciuman bibir, aku bopong Iza ke dalam kamar dengan tetap membiarkan kaca jendela tidak ditutup gorden, sehingga menambah nuansa tersendiri dalam permainan seks kami.
Baru saja Iza aku rebahkan di ranjang, tiba-tiba ia bangkit dan mendorongku hingga tertelentang. Ia terlihat ingin mengambil inisiatif menyerang dengan menciumi seluruh bagian tubuhku dengan ganasnya. Akibatnya, penis aku yang sejak tadi sudah mengeras itu, sudah tidak sabaran lagi untuk bisa menyeruak ke dalam lubang kenikmatan Iza. Pada saat Iza asyik melumat bibirku, secara diam-diam "si kecil" aku arahkan tepat di lubang vaginanya.
"Ah, terus sayang..," desahnya.
Sementara aku mengangkat pinggul agar penisku bisa masuk, Iza juga ikut membantu dengan menekan pinggulnya. Secara perlahan-lahan, penisku mulai dapat memasuki liang vagina Iza yang masih terasa sempit karena selalu dirawat dengan baik. Bless..! Semua batang penisku amblas masuk hingga dapat kurasakan menyentuh dasar vaginanya.
"Oh, terus honey. Enaakk..!" desahnya.
Karena aku merasakan goyangnya mulai mengendur karena lelah berada di atas, akhirnya aku mengambil inisiatif membalikkan tubuhnya hingga telentang, dengan penisku tetap berada di dalam vaginanya. Secara perlahan, aku mulai menggoyang pinggul untuk memaju mundurkan penisku di vaginanya, sementara lidahku tetap saling kait mengait dengan lidahnya. Kemudian lidahku merambat turun ke dadanya dan menghisap puting susunya yang mengeras, sementara aku tetap mempertahankan intensitas goyangan di pinggulku. Akibatnya, Iza terlihat sudah tidak bisa menahan seranganku, karena aku rasakan pinggulnya mulai diangkat dan kakinya mengejang.
"Oh, honey. Aku tak tahan lagi dan mau.. ke.. luar..'" erangnya.
"Tahan dulu sayang, kita keluarkan sama-sama," ujarku tertahan.
Aku akhirnya aku tidak bisa menahan desakan di pangkal penisku yang terasa menghentak-hentak hendak menghantam vagina Iza. Dan dalam hitungan detik, akhirnya aku muntahkan seluruh sperma yang ada di penisku, sementara Iza juga kurasakan mengeluarkan lendir di vaginanya yang terasa hangat oleh batang penisku.
"Oh, aku benar-benar puas Sandy. Aku ingin kamu masih di KL agak beberapa hari lagi," ujarnya sambil mengecup bibirku mesra.
"Bagaimana ya, tiketku tak bisa diundur karena sudah diprogram oleh penyelenggara Mega FAM. Aku harus pulang ke Indonesia pagi besok," jawabku hati-hati.
"Pokoknya serahkan saja tiket itu padaku, aku yang akan mengaturnya. Kalaupun tiket pesawatmu tidak bisa di undur, biarkan saja, nanti aku ganti dengan tiket baru untuk kembali ke Indonesia hari Kamis tanggal 29 Januari," katanya sambil mengelus dadaku yang sedikit berbulu. Aku menyatakan setuju, sehingga kulihat ia tersenyum karena merasa senang.
Dan menjelang pagi, kami sempat melakukan "pertarungan" sengit itu hingga empat kali, sehingga aku lihat Iza benar-benar terpuaskan oleh permainanku yang katanya sangat dahsyat itu. Ia juga berjanji untuk minta izin kepada atasannya selama 3 hari untuk menemaniku selama berada di Kuala Lumpur, sekaligus untuk melampiaskan nafsu syahwatnya yang juga sangat dahsyat itu.
Iza kembali ke apartemennya sekitar jam 04.30 untuk bersiap-siap pergi kerja, dan sekitar pukul 05.30 aku dibangunkan teman-teman untuk bersiap-siap menuju KLIA untuk seterusnya kembali ke kotaku. Namun kepada teman-teman aku sampaikan, bahwa aku masih akan tinggal di Kuala Lumpur hingga tanggal 29 Januari, karena ada sedikit urusan. Tentang tiket pesawatku yang tidak bisa diundur keberangkatannya, aku katakan sudah ada yang mengaturnya, sehingga teman-temanku dapat memahaminya.
*****
Salam manis untuk Marwah dan juga Sella, semoga puas membaca kisah cintaku dengan cewek Malaysia. Pesanku, "don't wait until tomorrow, what can you do to do".
Tamat
Subscribe to:
Posts (Atom)